KATAKAMI REDAKSI

Ikon

JURNALISME YANG LAYAK DIPERCAYA

Menyoal Buku Jenderal Sintong Panjaitan, Tak Eloklah Jika Ramai-Ramai Menuding Muka Wiranto & Prabowo Subianto. KOMANDO !!!

 

Buku Yang Diterbitkan Letjen Purn. Sintong Panjaitan

Buku Yang Diterbitkan Letjen Purn. Sintong Panjaitan

Oleh : MEGA SIMARMATA, PEMIMPIN REDAKSI KATAKAMI

Jakarta 13/3/2009 (KATAKAMI)  Siapapun juga yang membuat karya buku patut dihargai. Jarang orang yang menyadari dan mau secara terus-menerus membuat karya buku. Selain karena ongkos untuk memproduksi buku itu tidak sedikit,  laba atau keuntungan yang bisa didapat juga tak begitu signifikan.

Tetapi ada kepuasan, kebanggaan dan nilai tersendiri bagi siapapun yang menerbitkan karya buku.

Hari Kamis (12/3/2009) ini, Letjen Purnawirawan Sintong Panjaitan — mantan Pangdam Udayana — meluncurkan buku karya dirinya Dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.  Dan salah satu yang jadi kontroversi serta buah bibir tersendiri adalah tudingan yang menyatakan bahwa Prabowo pernah hendak ‘mengamankan’ sejumlah perwira yang didengarnya hendak melakukan kudeta.

Almarhum Jenderal Benny Moerdani Yang Sangat Mengagumkan Kharisma Dan Prestasinya

Almarhum Jenderal Benny Moerdani Yang Sangat Mengagumkan Kharisma Dan Prestasinya

Menurut Sintong, tuduhan bahwa Jenderal LB Moerdani akan melakukan coup d’etat hanya dilakukan oleh orang sakit. Hal ini, tulis Sintong di buku tersebut, tidak berbeda dengan kedua putra Presiden Irak Saddam Hussein yang lebih ditakuti, daripada para panglima Angkatan Bersenjata Irak. Dalam perkembangan selanjutnya, LB Moerdani dituduh tidak loyal pada Soeharto yang kemudian melahirkan istilah debennysasi. Moerdani sendiri sebelumnya adalah orang kepercayaan Soeharto.

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Yang ingin kami sampaikan disini adalah Sintong berhak mengeluarkan buku karya dirinya. Berhubung buku ini adalah domain atau wilayah pribadi dari Sintong maka isi dari buku itupun menjadi otoritas atau kewenangan penuh dari Sintong.

Patut dapat diduga buku ini memang di-setting untuk “menggunting” langkah Prabowo Subianto yang akan maju sebagai salah seorang CAPRES lewat Pemilihan Umum Pemilihan Presiden atau Pemilu Pilpres 2009 sebab “timing” atau waktu penerbitan buku ini dipilih sebulan sebelum pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 tanggal 9 April 2009 mendatang.

Sebagai CAPRES dari Partai Gerindra tentu Prabowo secara konsisten akan mendorong perolehan suara yang terbanyak dan terbaik bagi Partai Gerindra.

Tiba-tiba muncul buku yang patut dapat diduga ingin menuding muka Prabowo sebagai prajurit komando yang bobrok moralitasnya, terutama dikaitkan dengan rencana kudeta.

Jenderal LB Moerdani, Sosok Yang Sangat Pantas Dihormati & Akan Selalu Dikenang Sepanjang Masa

Jenderal LB Moerdani, Sosok Yang Sangat Pantas Dihormati & Akan Selalu Dikenang Sepanjang Masa

Kami memang perlu membaca buku Sintong secara lebih seksama agar mengetahui secara pasti, apa yang disampaikan dalam buku itu.

 

Tetapi kalau membaca ulasan di berbagai media massa online, isu kudeta itu justru diarahkan kepada LB Moerdani dan yang dituduh sebagai otak pelaku atau biang kerok yang menuding Pak Benny mau kudeta adalah Prabowo.

Kalau kami tidak salah dalam mengartikannya, seperti itulah kira-kira. Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa baru sekarang Sintong “bunyi” soal kejadian yang terjadi tahun 1983 ?

Ini ibarat dongeng anak-anak yang selalu didahului dengan kalimat, “Pada zaman dahulu kala, hiduplah si A, si B dan si C”. Atau dalam bahasa Inggrisnya, dongeng anak-anak itu selalu didahului dengan kalimat, “Once upon a time …..”.

Bayangkan, mengisahkan kejadian yang terjadi 26 tahun yang lalu untuk isu soal kudeta Pak Benny. Lalu, mengisahkan hal ihwal seputar masa transisi dari Pak Harto kepada Pak Habibie tahun 1998. Artinya, itu kejadian 11 tahun yang lalu.

Patut dapat diduga, dari rangkaian perjalanan waktu selama puluhan tahun yang dialami oleh Sintong ini maka sasaran tembak yang menyebabkan Sintong sakit hati adalah Prabowo Subianto.

Isu soal kudeta menyangkut Almarhum Benny Murdani yang sangat mengagumkan itu, sebenarnya lebih tepat jika disampaikan langsung oleh Pak Benny sendiri dalam karya bukunya. Kami harus membaca lagi apakah secara rinci, isu kudeta tahun 1983 ini dijawab secara khusus oleh Pak Benny dalam buku memoar yang pernah diterbitkannya semasa hidup.

*****

Istana Negara

Istana Negara

Lalu isu soal kedatangan Prabowo ke Istana Presiden untuk menemui Presiden Habibie, yang dikisahkan Sintong adalah perintahnya kepada Prabowo untuk meninggalkan senjata api yang dibawanya.

 

Menurut prosedur yang berlaku, para tamu presiden harus menunggu dahulu di lantai dasar, di sini mereka harus diperiksa dan disterilkan. Setelah tamu mendapat persetujuan bahwa ia akan diterima presiden baru diizinkan naik lift menuju lantai 4. Sintong mendapat laporan dari ajudan presiden bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya.

“Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap,” jelas Sintong.

Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo.

Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel.

Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang s0pan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan. 

*****

Begini, sebagian besar anggota TNI / POLRI memiliki senjata api sendiri. Termasuk para petingginya. Ini hal yang biasa terjadi. Semua petinggi TNI / POLRI, bahkan yang sudah pensiun sekalipun, bisa jadi memiliki senjata api masing-masing.

Perihal kedatangan Prabowo ke Istana Presiden membawa senjata api, hendaklah jangan terlalu didramatisir. Sebab, bisa muncul fitnah bahwa seolah-olah Prabowo datang untuk menembak Presiden Habibie. Terlalu kejam rasanya kalau seenaknya saja kita memfitnah orang. Bisa jadi tidak begitu kejadiannya.

Mengapa ini perlu disampaikan ?

Oke, saya ajak anda semua membayangkan bahwa seorang Prabowo datang ke Istana Presiden. Prabowo, perwira tinggi berbintang 3. Ia pasti dikawal ajudannya. Baik Prabowo, ataupun ajudannya, pasti membawa senjata api.

Di Istana Presiden, ada pos pemeriksaan yang melewati metal detector. Paspampres yang bertugas di Istana Presiden adalah Pasprampres dari Group A.

Sudah menjadi prosedur tetap di Istana Presiden bahwa semua orang yang membawa senjata api harus meninggalkannya. Tetapi ketika Prabowo datang, Paspampres yang bertugas sungkan karena rata-rata mengenal Prabowo sebagai menantu dari penguasa yang sangat lama memerintah di Indonesia yaitu Pak Harto.

Sekarang yang jadi pertanyaan, siapa yang salah jika anggota Paspampres sungkan memeriksa atau menahan Prabowo ? Apakah Prabowo yang salah kalau kejadian seperti itu ? Tidak tepat bahasa yang digunakan bahwa tidak ada yang bisa mencegah Prabowo mau masuk menerobos ke Kantor Presiden.

Sintong harus hati-hati kalau menjabarkan segala sesuatu. Disini, yang salah adalah Anggota Paspampres yang bertugas saat itu, lalu Komandan Group A dan Komandan Paspampres. Mengapa mereka tidak secara tegas meminta Prabowo meninggalkan senjatanya di pos penjagaan ?

Dan Sintong harus diberitahu bahwa ternyata ketika itu pengamanan Paspampres saat Habibie berkuasa sangat lemah.

Mengapa disebut lemah ?

Jangankan sampai di Bina Graha, jika ada tamu penting saja baru masuk ke halaman Istana Presiden maka informasinya sudah cepat dilaporkan oleh Paspampres melalui Handy Talkie (HT). Lama sekali informasinya kalau Ajudan Presiden dan Sintong sebagai penasehat keamanan baru tahu ada Prabowo setelah mantan Pangkostrad ini mau naik ke Lantai 4.

Untung waktu itu belum ada teroris kelas kakap seperti Hambali atau Noordin M. Top. Bagaimana kalau zaman itu sudah berseliweran teroris kelas kakap yang sangat lihat dan berbahaya ?

Saya bisa menjelaskan prosedur semacam ini  karena saya bertugas meliput di Istana Kepresidenan yaitu sebagai Wartawan Istana dari mulai tahun 1999 – 2008. Selama 9 tahun, saya melihat situasi di dalam Istana Kepresidenan. Jadi, penyampaian sebuah peristiwa haruslah bijaksana agar jangan ada pihak lain yang menjadi terpojok karena penyampaian yang kurang bijak tadi.

Lalu, tanpa mengurangi rasa hormat yang sangat tinggi kepada Jenderal Sintong yang sangat loyal kepada negara ini, saya secara pribadi juga ingin mengkritik dan membeberkan salah satu kelemahan dari Pemerintahan BJ Habibie dulu.

Terutama, jika memang saat Habibie berkuasa Jenderal Sintong adalah penasehat bidang keamanan.

Ceritanya begini, Ketua Komisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mary Robinson datang berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Habibie. Sudah barang tentu, topik yang dibicarakan adalah aksi kekerasan pasca jajak pendapat di Timtim.

Jenderal Wiranto ikut mendampingi Presiden Habibie bertemu Mary Robinson. Habibie sangat senang sekali karena ternyata dari hasil pertemuan itu, konon kabarnya Mary Robinson berbicara “datar-datar saja” dan penuh diplomasi. Artinya, tidak ada indikasi bahwa Indonesia akan dipermasalahkan mengenai pelanggaran HAM di Timtim.

Selama di Indonesia, Mary Robinson secara intens berbicara dan bertemu dengan aktivis HAM Ratna Sarumpaet.

Saya bersahabat dekat dengan Kak Ratna Sarumpaet dan ia menceritakan poin-poin penting pertemuan atau pembicaraannya dengan Mary Robinson. Intinya, Komisi HAM PBB mengincar Indonesia terhadap semua aksi kekerasan yang terjadi pasca jajak pendapat di Timtim. Sebab masuk dalam kategori genosida.

Saya laporkan informasi itu kepada Jenderal Wiranto. Sebab saya memang bekerja secara profesional sebagai staf khusus media bagi Jenderal Wiranto sejak beliau KSAD sampai Menhankam / Panglima TNI.

Jadi, pada saat Mary Robinson bertemu Habibie dan berdiplomasi bahwa Komisi HAM PBB tidak akan “mempermasalahkan” Indonesia — khususnya TNI — untuk masalah kekerasan pasca jajak pendapat di Timtim, Wiranto sudah tahu niatan sebenarnya dari Mary Robinson datang ke Indonesia sebab laporan saya sebagai staf khusus sudah dengan sangat cepat masuk ke meja kerja Jenderal Wiranto.

Sebagai Staf Khusus, saya diberi akses menghubungi beliau kapan saja dan dimana saja, terutama bila ada masukan, analisa atau informasi yang sangat penting.

Saat Wiranto mengatakankepada Presiden Habibie bahwa Mary Robinson datang ke Indonesia adalah untuk mencari bukti-bukti dan informasi untuk kepentingan “menyeret” Indonesia atas tuduhan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Timtim, Habibie tidak percaya.

Persis sehari sebelum saya menikah (September 1999), Jenderal Wiranto menghubungi saya secara tiba-tiba.

“Ga, maaf saya minta tolong sedikit, coba kamu re-check lagi isi pertemuan Ratna dengan Mary Robinson. Saya perlu informasinya sekarang, Ga !” kata Jenderal Wiranto.

“Oke Pak, saya hubungi secepatnya bila sudah dapat” jawab saya yang ketika itu sedang berada di Gedung yang akan menjadi tempat pelaksanaan pesta adat Tapanuli dari pernikahan saya.

Tidak lama setelah Jenderal Wiranto menghubungi saya, saya pun langsung menghubungi Ratna Sarumpaet. Ratna tidak tahu bahwa saya staf khusus media bagi Jenderal Wiranto tetapi Ratna tahu bahwa relasi saya sangat kuat di jajaran TNI. Saya berbasa-basi sejenak dan akhirnya masuk pada inti permasalahan soal Mary Robinson.

Komisi HAM PBB memang betul akan mempermasaahkan Indonesia.

Saya laporkan kepada Jenderal Wiranto hanya dalam hitungan menit kemudian. Wiranto berterimakasih karena dengan cepat saya bisa melaksanakan tugas yang sifatnya penting.

Yang mau disampaikan disini adalah Jenderal Sintong sebagai Penasehat Keamanan bagi Presiden Habibie dan ring satu Kepresidenan saat itu, patut dapat diduga kurang peka dalam hal pengumpulan informasi yang lebih luas mengenai maksud utama dari kedatangan Ketua Komisi HAM PBB.

Sehingga, patut dapat diduga juga Pemerintahan BJ Habibie bukanlah pemerintahan yang sangat ideal.

Melepaskan sebuah daerah menjadi negara yang merdeka tersendiri, sesungguhnya adalah sebuah pengingkaran terhadap NKRI, toh ? Lalu, jika ada ekses dari pemisahan diri itu maka negara tidak bisa lepas tangan dari semua kebijakan yang terkait mengenai itu.

Dan kalau bicara soal kerusuhan 1998, tidak benar jika disebutkan TNI tidak berbuat apa-apa dan layak dituding-tuding sebagai pihak yang harus bertanggung-jawab.

TNI dan Polri bekerja maksimal ketika itu. Kita jangan memposisikan diri seolah-olah menjadi pengamat dalam pertandingan sepakbola. Sebab, pengamat dalam pertandingan sepakbola pasti akan merasa lebih tahu dari si pemain yang sedang bertanding. Maksudnya, janganlah kita cepat menyalahkan dan menuding-nuding muka orang lain. Mari bijaksana. Kita harus bijaksana.

*****

JENDERAL WIRANTO

JENDERAL WIRANTO

Singtong cuma tahu 1 peristiwa dan saya tahu 2 peristiwa lainnya yang Jenderal Sintong barangkali tidak tahu soal ini. 

Tahun 1998 lalu, saya masih bekerja di Radio Trijaya FM Jakarta. Bambang Trihatmodjo yang memberikan rekomendasi kepada Peter F. Gontha agar saya diterima sebagai penyiar dan wartawati di radio itu. Peter F. Gontha yang sedang berada di Jepang langsung pulang ke Indonesia, ketika Mas BT menghubungi dirinya agar segera pulang karena ia mau menitipkan seseorang untuk bekerja.

Sehari kemudian, Peter F. Gontha sudah langsung membeli tiket untuk pulang ke Indonesia. Dan alangkah terkejutnya Peter sebab orang yang “dititip” untuk bekerja oleh anak presiden sangat berkuasa ketika itu, cuma ingin menjadi penyiar dan wartawati di radio saja.

Tetapi walaupun saya bekerja di Radio Trijaya FM Jakarta, saya juga sudah direkrut dan bekerja secara profesional sebagai staf khusus di bidang media oleh Menhankam  / Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto.

Saya termasuk saksi sejarah yang tahu “sedikit-sedikit” untuk hal tertentu saja.

Mas Bowo (Prabowo Subianto, redaksi), tidak cuma menemui Presiden Habibie. Beliau juga datang kok menemui Pak Wiranto dan Pak Subagyo HS yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Kepada kedua seniornya ini, Mas Bowo mengeluhkan pencopotan dirinya. Sebagai adik, ia gundah atas pencopotan itu. Baik Pak Wiranto ataupun Pak Subagyo, mereka tidak berburuk sangka bahwa Mas Bowo datang mau menembak mereka misalnya. Prabowo membawa senjata api juga kok. Tetapi memang tidak ada niatan untuk menembak siapapun. Ia hanya ingin berkeluh kesah.

Misalnya, dalam pertemuan dengan Pak Wiranto. Yang menyapa terlebih dahulu adalah Pak Wiranto, “Opo … Ono opo, Wo ? tanya Wiranto dalam bahasa Jawa yang artinya Apa, ada apa Wo ?.

Seusai pertemuan itu, Jenderal Wiranto menghubungi saya untuk mendiskusikan beberapa hal dan menampung masukan-masukan dari saya sebagai staf khusus beliau. Cerita tentang kedatangan Prabowo ini disampaikan sekilas oleh Pak Wiranto. Saya juga mendengar kisah pertemuan antara Pak Subagyo HS Dengan Mas Bowo.

Tetapi walaupun saya tahu langsung isi pertemuan itu, tidak etis jika saya yang menyampaikan secara detail. Namun intinya tetap sama yaitu Mas Bowo berkeluh kesah tentang pencopotan itu.

*****

Saya menguraikan ini sebagai kesaksian lain dari seorang anak bangsa yang kebetulan dalam lembaran perjalanan sejarah mengetahui seucil informasi untuk melengkapi kisah perjuangan Letjen Sintong Panjaitan.

Saya hanya ingin semua pihak bijaksana dalam menyikapi perjalanan bangsa ini. Alangkah baiknya jika semua pihak melakukan rekonsiliasi.

Apapun bentuk sakit hati, dendam, luka bathin atau ketersinggungan yang dalam sesama anak bangsa, mari dengan segala ketulusan dan kerendahan hati untuk saling memaafkan.

Indonesia ini negara hukum. Perihal kerusuhan Mei 1998, sudah ada proses hukumnya. Lalu, siapa yang mesti disalahkan jika negara atau pemerintah tidak  menetapkan orang per orang untuk dipersalahkan ?

Sekarang kalau mau main salah-salahan, sebelum Jenderal Sintong bicara tentang kerusuhan 1998, bagaimana kalau Jenderal Sintong bicara dulu tentang kerusuhan Santa Cruz di Timor Timur tanggal 12 November 1991 ?

Tangisan Keluarga Korban Santa Cruz Yang Menangisi Anggota Keluarga Mereka Yang Ditembaki Secara BRUTAL !

Tangisan Keluarga Korban Santa Cruz Yang Menangisi Anggota Keluarga Mereka Yang Ditembaki Secara BRUTAL !

Semua orang, siapapun itu, pasti tidak mau dipersalahkan dan akan tetap mencari pembenaran diri.

Tetapi jika terjadi sesuatu yang merupakan kesalahan atau pelanggaran dalam struktur atau dunia kemiliteran maka wajib hukumnya bagi komandan untuk bertanggung-jawab. Pencopotan Sintong sebagai Pangdam Udayana karena insiden Santa Cruz itu adalah bagian dari pertanggung-jawaban itu.Presiden SBY secara khusus meletakkan karangan bunga di Komplek Pemakaman Santa Cruz saat berkunjung ke Timor Leste April 2005.

Ratusan orang tewas ketika berunjuk rasa di Komplek Pemakaman Santa Cruz Dili November 1991.

Ketika itu, tentara Indonesia menembaki para demonstran yang berkumpul di Komplek Pemakaman Santa Cruz untuk memberikan penghormatan kepada aktivis kemerdekaan Sebastiao Gomez yang sudah lebih dahulu tewas akibat terjangan peluru militer Indonesia.

Tahukah Sintong bahwa INDONESIA menjadi sangat terpojok dimata dunia internasional akibat insiden Santa Cruz itu ?

Tahun 2008 lalu misalnya, tiba-tiba saja Pemerintahan Timor Leste mengundang Tim Forensik dari Australia untuk menggali kembali kuburan para korban Santa Cruz. Dan jika ditemukan ada pelanggaran HAM maka Indonesia diminta bertangung-jawab atas insiden Santa Cruz.

Sebuah insiden yang terjadi puluhan tahun lalu, masih terus diungkit-ungkit oleh rakyat dan Pemerintahan Timor Leste.

Dan Sintong patut dapat diduga akan menjadi orang nomor satu yang “dibidik” oleh rakyat dan Pemerintah Timor Leste.

Tahun 2008 lalu, rencana pembongkaran kuburan korban Santa Crua ini saya pertanyakan kepada Menteri Pertahanan Prof Dr Juwono Sudarsono. Jawaban beliau seperti ini, “Hendaknya Timor Leste menyadari bahwa lebih bijaksana jika kita ini bertetangga dengan baik. Janganlah terus menerus mempersalahkan dan terus menerus menyudutkan TNI. Sebab Timor Leste juga punya kesalahan,” demikian kata Menhan Juwono Sudarsono.

Tidak usah jauh-jauh bicara tentang kerusuhan 1998, nama Sintong terkait dalam kerusuhan Santa Cruz tahun 1991. Istilah terkait disini, bukan untuk mengatakan bahwa Sintong yang bersalah. Sama sekali bukan itu maksudnya. Tetapi, setiap berbicara tentang insiden Santa Cruz maka nama yang dianggap paling bertanggung-jawab adalah Sintong Panjaitan, sebab ketika insiden itu terjadi Sintong bertugas sebagai Pangdam Udayana.

*****

Dan kalau bicara tentang Prabowo Subianto, tidak perlu orang per orang yang merasa paling tahu atau paling berhak menghakimi Prabowo. Serahkan saja pada proses hukum. Dan proses hukum yang dijalankan selama ini terkait kerusuhan 1998, tidak menyebutkan dan menetapkan bahwa Prabowo terlibat.

Di dalam sebuah negara hukum seperti Indonesia, hukum tidak bisa dianalogikan dengan asumsi atau praduga semata. Ada istilah, asas praduga tak bersalah atau presumption of innocent.

Hukum, sekali hukum, yang harus dihormati dan dijadikan tolak ukur dalam menilai sebuah kasus atau permasalahan. Tidak ada satu warga negarapun di republik ini yang bisa mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, paling tahu dan paling berhak menentukan definisi tentang salah atau benarnya orang lain dalam kasus-kasus yang tersangkut dengan dirinya.

Prabowo Subianto sudah ditetapkan sebagai kandidat capres 2009.

Let it flow.

Biarlah semua berjalan seperti hembusan angin. Tak usah dibendung atau dihalangi dengan semua cara yang kurang bijaksana. Rakyat yang menentukan, apakah mereka mau memilik Prabowo atau tidak. Tanpa harus dibuatkan buku, dibeberkan kepada media massa secara nasional dan internasional, rakyat bisa memilih dan menentukan sendiri siapa pemimpin yang ingin mereka pilih.

Kan tidak enak rasanya kalau misalnya muncul seorang warga Timor Leste atau siapapun yang berteriak-teriak dalam jumpa pers, “Adili Sintong Panjaitan, bawa ke ke Mahkamah Internasional. Kembalikan anggota keluarga kami yang mati dalam insiden Santa Cruz !”. Ini hanya ilustrasi saja. Tetapi coba bayangkan jika ada yang meledak-ledak emosinya menuduh Sintong secara sinis dan emosional seperti itu.

Pasti Pak Sintong tidak terima dituding-tuding dan dipermalukan seperti itu.

 

CAPRES 2009 Dari Partai Hanura, WIRANTO

CAPRES 2009 Dari Partai Hanura, WIRANTO

Mari, kita saling berjabatan tangan dan melakukan rekonsiliasi. Tahun 2009 ini adalah tahun politik. Berpolitiklah kita secara santun dan terpelajar. Tidak perlu saling menjelekkan, membusukkan dan melakukan pembunuhan karakter.

 

Bukan salah Prabowo dan bukan salah Wiranto, jika lewat kiprah mereka di panggung perpolitikan nasional, sebagian rakyat mulai jatuh hati pada figur mereka. Kita tidak mungkin melarang satu per satu rakyat Indonesia seantero nusantara untuk wajib menyukai dan memilih figur tertentu, dan membenci atau menolak figur lainnya.

Rekonsiliasi, adalah kunci untuk melangkah maju menuju Indonesia yang lebih manusiawi, adil, makmur dan taat hukum. Dan apapun yang terjadi. Jenderal Sintong tetap harus dihormati dan diberikan penghargaan yang tinggi untuk dedikasinya kepada bangsa dan negara. Terutama diberikan apresiasi dan penghargaan lewat karya bukunya.

KOMANDO !!!

 

 

(MS)

 

PS : Mohon kepada pihak tertentu yang hobi menjebol kedua BLOG kami, dan ketagihan membuat kutipan-kutipan berdasarkan halusinasi dan kecenderungan merusak karya orang lain, hormati aset, properti, kehidupan pribadi dan hak-hak orang lain. Kami ingatkan untuk tidak membiasakan diri mengotori kedua blog kami dengan perbuatan-perbuatan kotor anda. Catat itu.

 

 

 

About these ads

Filed under: Uncategorized

Maret 2009
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip

Kategori

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: