KATAKAMI REDAKSI

Ikon

JURNALISME YANG LAYAK DIPERCAYA

Patutkah Dapat Diduga Ada Filosofi “Kura-Kura Dalam Perahu” Dibalik Pemeriksaan Skandal Hukum Paling Memalukan Bandar Narkoba MONAS ?

 

Semua orang sama kedudukannya di muka hukum, siapapun yang patut dapat diduga terlibat (walaupun berpangkat Komisaris Jenderal), copot, tangkap, penjarakan & proses sesuai ketentuan hukum !

Semua orang sama kedudukannya di muka hukum, siapapun yang patut dapat diduga terlibat (walaupun berpangkat Komisaris Jenderal), copot, tangkap, penjarakan & proses sesuai ketentuan hukum !

 

Jakarta (KATAKAMI)  Inikah yang namanya reformasi birokrasi POLRI ? Skandal hukum yang paling memalukan di negeri ini adalah diloloskannya sebanyak 3 kali bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS dari jerat hukum, ternyata hanya memecat 5 penyidik kelas-kelas bawah.

Padahal, MABES POLRI telah menurunkan Tim Pemeriksa dari IRWASUM POLRI guna memeriksa kasus rekayasa Berita Acara Pemerikasan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong, ternyata Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri cuma mencopot 4 penyidik kelas bawahan doang.

Ya ampun, lalu bagaimana dengan beking utamanya yang patut dapat diduga berpangkat Komisaris Jenderal ? Pemeriksaan itu sangat kredibel atau patut dapat diduga sekedar basa-basi saja karena terlanjur bocor ke wartawan ?

Apartemen Taman Anggrek yang menjadi "markas" bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang digrebek polisi Nov 2007

Apartemen Taman Anggrek yang menjadi "markas" bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS yang digrebek polisi Nov 2007

Menjelang akhir bulan Februari lalu, yaitu 25 Februari 2009 lalu MABES POLRI mengumumkan bahwa 5 penyidik yang dicopot dari jabatannya ialah para penyidik dari Direktorat IV Narkoba Bareskrim Polri dengan pangkat mulai dari Bintara sampai perwira menengah yaitu Brigadir, AKP, AKBP dan Kombes.

Dalam berita acara pemeriksaaan (BAP), Monas disebutkan bukan sebagai bandar narkoba 1 juta ekstasi di Apartemen Taman Anggrek. Monas hanya disebut sebagai pecandu dan kepemilikan sabu sebanyak 1,5 gram sehingga hanya divonis satu tahun. Sedangkan istrinya, Cece, dikenai hukuman mati.

Sementara dalam jawabannya kepada  Komisi III DPR-RI tanggal 9 Februari lalu, Kapolri Jenderal BHD menegaskan bahwa guna mengoptimalkan kerja penyidik Polri dalam penanganan narkoba, maka Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri dan jajarannya harus mengawasi penanganan perkara narkoba agar profesional dan benar.

Saat ditanya soal kasus MONAS, Kapolri BHD menjawab bahwa sudah ada lima polisi, yang diperiksa secara intensif dalam kasus Monas.

“Kelimanya, diduga terkait atas penyimpangan penyidikan dan pemberkasan kasus Monas,” kata Kapolri.

Lim Piek Kiong alias Monas, 48, adalah bandar narkoba yang ditangkap di Apartemen Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, pada 21 November 2007. Saat penangkapan, disita barang bukti 490.802 butir pil ekstasi bernilai Rp49,08 miliar. Sebenarnya ia memiliki satu juta pil ekstasi, tapi 509.198 butir telah terjual.

Namun, berita acara pemeriksaan (BAP) Monas tidak pernah ada. BAP yang diserahkan kepada kejaksaan adalah pemakaian sabu di Apartemen Mal Taman Anggrek dengan barang bukti 1,5 gram. Monas kemudian divonis 1 tahun pada 5 Juni 2008 dan telah bebas.

*****

Kelima orang penyidik itu akhirnya memang telah diberhentikan terkait BAP yang dinilai meringankan hukuman Monas. Lalu bagaimana dengan para perwira tinggi yang patut dapat diduga terlibat sebagai beking dari bandar narkoba Monas ?

Bayangkan, bandar kelas kakap yang lebih patut disebut sebagai MAFIA ini, sudah untuk yang ketiga kalinya diloloskan dari jerat hukum. Patutkah dapat diduga, Kapolri BHD takut menangani kasus ini karena melibatkan sejumlah perwira tinggi.

Bahkan, patut dapat diduga, beking tertinggi dari bandar narkoba MONAS ini berpangkat KOMISARIS JENDERAL.

Patut dapat diduga juga, biaya renovasi gedung Direktorat Narkoba sebuah Polda berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong alias MONAS dan isterinya Cece beberapa tahun silam yaitu saat keduanya diloloskan dari jerat hukum untuk yang kedua kalinya.

Inilah sebagian barang bukti kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dimana semua ujud dari barang bukti ini dan aslikah barang bukti itu sekarang ? Jangan sampai barang bukti itu DIJUAL oleh oknum POLRI

Inilah sebagian barang bukti kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS. Dimana semua ujud dari barang bukti ini dan aslikah barang bukti itu sekarang ? Jangan sampai barang bukti itu DIJUAL oleh oknum POLRI

 

Ini bukan kasus narkoba biasa. Ini sebuah kasus yang sangat memalukan. Kami lebih cenderung menggunakan istilah skandal hukum yang paling memalukan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, boleh merenungkan dalam-dalam bagaimana nasib dan masa depan Indonesia jika POLRI bersikap mendua dalam menangani kejahatan narkoba.

Patut dapat diduga, Kalakhar BNN Komjen GM terlibat dalam kasus bandar narkoba Monas ini. Mengapa yang bersangkutan masih bisa tetap menjabat ? Sudah sepantasnya, yang bersangkut di non-aktifkan agar pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh.

Tidak gampang untuk memeriksa seorang perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal. Tim Pemeriksa sudah harus lebih tinggi pangkatnya. Sementara, di dalam struktur organisasi POLRI pangkat tertinggi diatas Komisaris Jenderal adalah Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri.

Sehingga, yang dapat memeriksa oknum perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal ini adalah Kapolri BHD atau langsung ditangani oleh Menko Polhukkam Widodo AS yang berpangkat bintang 4 juga atau Laksamana TNI Purnawirawan.

Penanganan kasus narkoba, khususnya kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong ini akan menjadi bola api yang menggelinding kesana kemari. Dan pergerakan bola api dari kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ini bisa “membakar dan menghanguskan” jika tidak ditangani secara tepat.

Namanya juga bola api, jadi cara penanganannya harus dipadamkan sampai sumbu utama dari api itu padam. kalau cuma mencopot penyidik kelas-kelasan bawahan, apa gunanya ?

Untuk apa memeriksa sekian banyak orang dari mulai penyidik di jajaran Polda Metro Jaya sampai ke Direktorat IV Bareskrim, kalau hanya berujung pada pencopotan 5 penyidik kelas-kelas bawahan saja ?

 

 

 

Pepatah lama mengatakan : "Janganlah Kura-Kura Dalam Perahu, Jangan Ada Yang Pura-Pura Tidak Tahu"

Pepatah lama mengatakan : "Janganlah Kura-Kura Dalam Perahu, Jangan Ada Yang Pura-Pura Tidak Tahu"

 

Tepuk tangan dan bersorak-sorai beking dari bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas ini, mendengar keputusan Kapolri BHD yang sangat murah hati dan “bijaksana”.

Di akhir pekan ini, ada pepatah lama yang layak untuk direnungkan yaitu “Janganlah Seperti Kura-Kura Dalam Perahu, Janganlah Pura-Pura Tidak Tahu !”.

Katakan tidak pada narkoba, artinya katakan juga tidak pada segala bentuk toleransi pada beking utama kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong ini. Copot, tangkap, penjarakan, dan adili sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku bagi BEKING UTAMA BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG ALIAS MONAS.

Siapapun perwira tinggi POLRI yang patut dapat diduga terlibat, tangkap dan adili !

Dan dimana, barang bukti berupa uang rupiah dan beragam dolar dari kasus bandar narkoba MONAS ini ? Patut dapat diduga, barang bukti berupa uang ini diserahkan Pihak Kejaksaan kepada Kepolisian.

Presiden SBY dan Wapres JK perlu bertanya kepada Kapolri BHD, “Mana laporan dan dimana wujud barang bukti uang dari kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS ?”.

Kami menyarankan agar Presiden SBY dan Wapres JK bertanya kepada Kapolri BHD tentang barang bukti berupa uang itu. Patut dapat diduga barang bukti uang dari kasus bandar narkoba MONAS itu ada di internal Polri.

***** 

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Presiden & Wapres perlu menanyakan kepada KAPOLRI BHD, dimana semua barang bukti uang rupiah dan seluruh uang DOLAR dari kasus bandar narkoba MONAS ini ?

Dan inilah kronologi kasus bandar narkoba MONAS yang kami kutip sepenuhnya dari harian SUARA MERDEKA tangga 24 November 2007 :

Mabes Polri, Jumat (23/11/2007), membongkar jaringan internasional bisnis haram. Tidak tanggung-tanggung, sekitar setengah juta tablet ekstasi berhasil diamankan. Selain itu, polisi mengamankan barang bukti uang tunai total sebesar Rp 3,45 miliar, 25 ribu dolar Singapura, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong.

Polisi mengamankan tersangka, tiga orang WNI yaitu Abdulrohim (50), Lim Piek Kiong alias Monas (47), dan Thio Bok An alias Johan (60), serta dua warga negara Malaysia atas nama Lim Jit Wee (41) dan Chua Lik Chang alias Asok (52).

Empat tersangka lainnya buron, yaitu Cheong Mun Yau, Diong Chee Meng, Steven Law alias Albert, dan Jet Lie Chandra (istri Monas). Selain Jet Lie, ketiga buron lainnya merupakan warga negara Malaysia yang diduga mengendalikan pengiriman ekstasi ke Indonesia.

Menurut Kepala Polri (Kapolri) Jend Sutanto, dari informasi yang diperoleh dari anggotanya, jaringan itu total berencana memasukkan dua juta pil ekstasi ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, setengah juta pil berhasil diamankan, dan 481 ribu pil sudah beredar di pasaran, serta sekitar 1 juta lagi masih dalam penyelidikan.

Direktur IV Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Indradi Tanos mengatakan bahwa kasus itu berawal informasi dari masyarakat yaitu ada sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Belanda dalam jumlah jutaan tablet. Atas informasi tersebut, diterjunkan tim yang diketuai oleh AKBP Samsu Rijal Mokoagow untuk melakukan pendalaman. Benar saja, tanggal 10 November tepat pukul 18.00, polisi menemukan barang bukti ekstasi sebanyak 9.802 butir, dan menangkap Abdurohim di kamar 2319 Hotel Peninsula Jakarta Barat.

Dalam pengembangan penyidikan, Rabu (21/11/2007), pukul 13.30 di kamar 30 KH Tower Dahlia Apartemen Mediterania Jakarta Barat, polisi menangkap Lim Jit Wee, dan menyita uang tunai Rp 950 juta, 25 ribu dolar Singapura, dan ekstasi sebanyak 11 ribu tablet yang disimpan di mobil Kijang B-7870-ZO yang diparkir di lantai dasar apartemen itu.

Rabu itu juga, pukul 15.00, di kamar 26 KA apartemen yang sama, ditangkap seorang warga negara Malaysia bernama Chua Lik Chang alias Asok. Selanjutnya penyidikan dikembangkan dengan menggeledah kamar 19A Tower 5 Apartemen Taman Anggrek.

Di tempat tersebut, berhasil disita ekstasi sebanyak 470 ribu tablet, 24 kaleng phosporus yang setiap kalengnya berisi 500 gram, serta tiga botol iodium cristal yang setiap botolnya berisi 500 gram, yang diduga sebagai bahan pembuatan ekstasi.

Kamis (22/11/2007), pukul 01.00 di kamar 39E Tower 7 Apartemen Taman Anggrek, ditangkap dua orang tersangka lainnya yang merupakan WNI, yaitu Lim Piek Kiong alias Monas, dan Thio Bok An alias Johan. Di tempat itu ditemukan 1,6 gram sabu.

Penyidikan berlanjut, dengan menggeledah rumah Monas di Jalan Gria Lestari Blok J Nomor 27 Komplek Gria Inti Sentosa Tanjung Priok Jakarta Utara. Di tempat tersebut ditemukan, 0,7 gram sabu serta 45 gram serbuk putih yang diduga ketamin.

Berlanjut Jumat (23/11), pukul 02.00, polisi mendobrak kamar 19J Tower 3 Apartemen Taman Anggrek, milik Steven Law alias Albert. Polisi menemukan uang tunai Rp 2,4 miliar, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong yang disimpan di dalam brankas.

Selain itu ditemukan, 4 botol iodium cristal, satu kaleng fosfor, dan kristal yang diduga sabu seberat 5 gram.

Menurut Samsu Rijal, pengungkapan kasus itu merupakan yang terbesar dalam kasus ekstasi. ”Selama penangkapan di kepolisian, barang bukti yang disita kali ini yang terbesar,” ujarnya.

Sedangkan Indradi Tanos mengatakan, diduga peredaran ekstasi tersebut melalui diskotik-diskotik di seluruh Indonesia, dengan harga Rp 100 ribu per butir. Sedangkan sekitar setengah juta tablet ekstasi yang disita aparat setara dengan lebih dari Rp 49 miliar.

 

 

*****

Barang bukti lainnya dari kasus bandar narkoba MONAS, dimana semua barang bukti yang asli dari kasus ini ?

Barang bukti lainnya dari kasus bandar narkoba MONAS, dimana semua barang bukti yang asli dari kasus ini ?

 

Kasus yang sangat menggemparkan ini, apakah mungkin hanya dikendalikan dan dianggap layak untuk dipertanggung-jawabkan hanya oleh 5 orang penyidik ?

Kalau hanya 5 penyidik itu yang dianggap layak dipecat, maka patut dapat diduga keputusan KAPOLRI ini adalah keputusan yang paling memalukan dalam upaya penegakan hukum di Indonesia.

Tidak bisa tidak dan jangan katakan tidak, beking utama dari kasus bandar narkoba MONAS ini harus diseret ke Pengadilan. Jangan lindungi siapapun yang terlibat dalam kasus ini.

 

Gambar animasi binatang KURA-KURA

Gambar animasi binatang KURA-KURA

 

Dan yang sangat mendesak, jangan berikan jabatan apapun sebab proses pemeriksaan dan penindakan tidak boleh berhenti hanya sampai pada pemecatan 5 orang penyidik itu.

Tangkap beking utamanya. Penjarakan. Dan bawa sang beking yang pasti sudah kaya raya tak terhingga itu ke Pengadilan. Jangan lindungi, sekali lagi, jangan lindungi.

Tangkap beking utamanya. Tangkap, siapapun itu ! Dan jangan terapkan filosofi, “KURA-KURA DALAM PERAHU”.

 

(MS)

 

Filed under: Uncategorized

Jika Patut Dapat Diduga Terlibat & Terbukti Bersalah Sebagai Beking Bandar Narkoba Liek Piek Kiong Alias MONAS, Copot, Adili & Berikan VONIS MATI Kepada Komisaris Jenderal GM

 

121-gm4

Jakarta (KATAKAMI) Hampir 3 bulan kontroversi kasus rekayasa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) bandar narkoba Liem Piek Kiong alias Monas menguak ke permukaan. Sejak pertengahan bulan Desember lalu, Tim Irwasum Polri menangani kasus ini.

Sejak awal, sudah tercium kabar tak sedap yaitu patut dapat diduga Komisaris Jenderal GM adalah beking utama dari bandar narkoba Monas. Herannya perwira tinggi ini tidak tersentuh samasekali oleh pemeriksaan internal POLRI.

Patut dapat diduga, kabar tentang keterlibatan dalam kasus seputar bandar narkoba Monas ini bukan kasus pelanggaran hukum pertama yang melibatkan Komjen GM.

Jauh sebelumnya, yaitu saat era kepemimpinan Jenderal Sutanto pun sudah ada kasus lain yang sama kotornya yaitu patut dapat diduga Komjen GM adalah otak pelaku dari pencurian barang bukti 13 kg sabu-sabu. 

 

Kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

Kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

Walau banyak yang menyebutkan bahwa Komjen GM dekat dengan Sutanto, tetapi ketika itu kemarahan Sutanto tak bisa dihindari lagi. Setelah mendapat teguran keras dan ancaman dari Sutanto agar secepatnya barang bukti yang hilang itu dikembalikan ke gudang penyimpanan, akhirnya barang bukti yang hilang itu memang bisa kembali secara “ajaib” ke gudang penyimpanan.

Bukan apa-apa, kasus hilangnya barang bukti 13 kg sabu-sabu tersebut menjadi sorotan publik yang sangat memalukan Polri.

Dari segi nominal angka memang termasuk kecil angka 13 kg. Tetapi kalau dijual ke pasaran, dari barang seberat 13 kg sabu-sabu ini maka penjualnya akan meraup keuntungan sebesar Rp.13 miliar !

Bayangkan, betapa kaya raya oknum pelaku PENCURIAN barang bukti narkoba di negara ini kalau dibiarkan terus menerus menggerogoti gudang penyimpanan.

Tim Irwasum Polri saat mulai memeriksa kasus bandar narkoba Monas, terlebih dahulu memeriksa para Penyidik di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

Yang sulit untuk dipahami adalah Tim Irwasum melewatkan satu celah yang sangat penting dalam kasus bandar narkoba Monas. Patut dapat diduga, biaya renovasi dari Gedung Direktorat Polda Metro Jaya berasal dari sumbangan pasangan Liem Piek Kiong dan Jet Li isterinya.

Pemeriksaan Tim Irwasum harus diperluas dan diperdalam. Tidak cuma memeriksa seputar kasus rekayasa BAP saja, tetapi keseluruhan dari sepak terjang Monas.

Bandar dan mafia yang kotor ini sudah untuk yang tiga kalinya lolos dari jerat hukum. Hal ini tidak akan pernah bisa terjadi kalau tidak ada beking utamanya didalam internel Polri sendiri.
Kapolri Sutanto saat sidak kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

Kapolri Sutanto saat sidak kasus bandar narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS

 

Janganlah ada yang kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Jika memang ada dugaan keterlibatan dari perwira tinggi sekalipun, tangkap, penjarakan dan seret ke muka hukum.

Lepas dari semua jasa atau prestasi Komjen GM dalam bidang penanganan terorisme sejak 8 tahun terakhir, ia pantas untuk dibawa ke muka hukum jika memang terindikasi melakukan perbuatan melawan hukum.

Jasa atau prestasi apapun, tidak akan ada gunanya jika seseorang menjadikan semua itu sebagai pembenaran untuk melakukan apa saja yang melanggar hukum di negara ini.

 

Semua warga negara sama kedudukannya di muka hukum sehingga siapapun yang melanggar hukum harus diadili & dihukum

Semua warga negara sama kedudukannya di muka hukum sehingga siapapun yang melanggar hukum harus diadili & dihukum

Jasa atau prestasi dari Komjen GM dalam penanganan terorisme juga akhirnya akan terkuak bahwa semuanya itu tidak sempurna dan tidak harum secara semerbak.

Patut dapat diduga, didalam penanganan terorisme itu sendiri ada begitu banyak dugaan pelanggaran yang bermuara pada penggunaan kewenangan secara berlebihan dan ada bau anyir pundi-pundi. Pemberian eksklusivitas pemberitaan kepada satu media massa televisi selama 7 tahun (dari mulai kasus peledakan bom malam natal tahun 2000 sampai periode penanganan teroris Abu Dujana – Zarkasih), patut dapat diduga dampak dari penggunaan wewenang yang berlebihan dari Komjen GM.

Patut dapat diduga, peminjaman ALI IMRON — terpidana kasus Bom Bali I — sejak tahun 2003 sampai saat ini adalah dampak dari penggunaan wewenang yang disalah-gunakan juga oleh Komjen GM.

Patut dapat diduga, pemberian segala fasilitas dan kemewahan hidup untuk ALI IMRON (termasuk didalamnya pembuatan buku memoar alias otobiografi dari ALI IMRON) adalah atas penggunaan wewenang yang berlebihan dari GM.

Jasa atas prestasi dari GM dalam penanganan terorisme, bercampur aduk antara harum semerbak yang wangi dengan bau busuk yang sangat sengit karena begitu banyak dugaan pelanggaran hukum yang terkandung di dalamnya. POLRI harus tegas menangani masalah GM.

Terpidana Teroris ALI IMRON dipinjam dari LP Krobokan sejak tahun 2003 sampai saat ini oleh TIM ANTI TEROR POLRI. Seret teroris yang bengis ini dan kembalikan ke penjara untuk menjalani masa hukumannya PIDANA PENJARA SEUMUR HIDUP !

Terpidana Teroris ALI IMRON dipinjam dari LP Krobokan sejak tahun 2003 sampai saat ini oleh TIM ANTI TEROR POLRI. Seret teroris yang bengis ini dan kembalikan ke penjara untuk menjalani masa hukumannya PIDANA PENJARA SEUMUR HIDUP !

Jika memang ada indikasi keterlibatan dalam kasus bandar narkoba Monas, Komjen GM sekalipun harus diperiksa. Dan jika terdapat bukti-bukti keterlibatan (apalagi bukti nyata sebagai beking utama dari bandar narkoba Monas), Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tak perlu ragu untuk memerintah penangkapan terhadap Komjen GM dan menahannya di Rutan POLRI.

Reformasi Birokrasi POLRI harus tegas dan keras menyikapi oknum-oknum yang patut dapat diduga melakukan perbuatan melawan hukum secara terus menerus dan berkesinambungan. Periksa semua rekening, aset pribadi dan harta kekayaan Komjen GM. Termasuk 3 rumah yang patut dapat diduga DIBERIKAN kepada oknum polwan yang berselingkuh dengan diri oknum perwira tinggi ini.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan PPATK, dapat dikerahkan untuk bekerjasama dengan MABES POLRI memeriksa semua rekening-rekening dari Komjen GM, isterinya, kedua anaknya dan bahkan rekening dari oknum polwan yang dekat dengan oknum perwira tinggi ini. 

Tak perlu ragu menindak siapapun yang mencari kekayaan abadi lewat cara-cara yang salah dan melanggar hukum ! Jangan ada upaya untuk mendiamkan atau melindungi siapapun yang patut dapat diduga melakukan pelanggaran hukum. Indonesia adalah negara hukum ! Bahkan KATAKAMI.COM juga sangat terkesima, belakangan ini patut dapat diduga oknum perwira tinggi berinisial GM menjadi tidak malu-malu untuk ikut terus-menerus  merusak SITUS BERITA WWW.KATAKAMI.COM dan semua BLOG kami di WordPress, terutama bila sudah ada berita soal Bandar Narkoba Liem Piek Kiong alias MONAS, serta tulisan seputar oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh dengan oknum berinisial GM ini sejak belasan tahun silam. Luar biasa, sudah tidak ada rasa malu samasekali.

Patut dapat diduga inilah oknum polwan yang berselingkuh dengan oknum perwira tinggi GM Sejak belasan tahun lalu, sehingga keduanya layak dicopot dari jabatannya dan diberhentikan secara tidak hormat sebagai POLISI

Patut dapat diduga inilah oknum polwan yang berselingkuh dengan oknum perwira tinggi GM Sejak belasan tahun lalu, sehingga keduanya layak dicopot dari jabatannya dan diberhentikan secara tidak hormat sebagai POLISI

Terutama jika ada tulisan yang menyinggung atau memuat tentang bandar narkoba MONAS. Bahkan ketika profil dari Irwasum Polri Komjen Polisi Jusuf Manggabarani dimuat, tulisan itupun dirusak karena didalamnya ada menyinggung masalah bandar narkoba Monas.

Juga tulisan tentang oknum polwan yang patut dapat diduga berselingkuh, termasuk yang dirusak terus menerus tanpa ada rasa malu dari oknum perwira tinggi ini.

OTAK PELAKU pengrusakan tulisan seputar bandar narkoba Monas ini sangat percaya diri bahwa dirinya tidak akan pernah bisa diperiksa atau dipersalahkan oleh PIHAK BERWAJIB. Jangan lupa, kami telah melaporkan kasus pengrusakan ini kepada Komnas HAM dan beberapa Fraksi di DPR-RI.

Dan kepada Kapolri BHD, jangan biarkan nama baik dan kehormatan POLRI menjadi tercoreng hanya karena ulah seorang oknum saja. <Selesai>

Filed under: Uncategorized

Skandal Hukum Paling Memalukan Terkait Bandar Narkoba Liem Piek Kiong Alias MONAS Yang Patut Dapat Diduga Melibat KOMJEN GM Sebagai Bekingnya

121-gm3

JAKARTA (KATAKAMI)  Bukan sulap sembarang sulap. Inilah skandal hukum yang paling memalukan di Indonesia untuk tahun 2008 dalam hal pemberantasan narkoba. Bayangkan, seorang bandar dan mafia narkoba internasional yang paling berbahaya, sengaja diloloskan dari jerat hukum oleh oknum Polri. Pemerintah Indonesia sekarang menjadi sangat dilematis posisinya. Nama si bandar “MONAS” yang ditangkap di Apartemen Mal Anggrek bulan November 2007, terkesan sengaja tidak dimasukkan namanya di berkas pemeriksaan.

Sangat memalukan, jika ada seorang bandar dan mafia narkoba yang disebut-sebut sebagai pemilik dari 1 juta pil ekstasi, justru hanya dijadikan sebagai saksi saja dan memang disengaja untuk tidak dimasukkan namanya dalam berkas pemeriksaan penyidik Polri dalam kasus yang melibatkan si bandar itu sendiri.

Bandar pemilik 1 juta pil ekstasi dengan tersangka Lim Piek Kiong alias Monas bisa berubah kasusnya hanya menjadi kepemilikan 1,5 gram sabu. Sedangkan isteri dari si bandar tadi, justru mendapat hukuman atau VONIS MATI ! 

Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepemilikan 1,5 gram sabu itulah yang diserahkan polisi sehingga jaksa hanya menuntut 1 tahun penjara.

Tidak dimasukkannya nama Monas ke dalam berkas pemeriksaan kasus Apartemen Taman Anggrek, seakan menunjukkan betapa lihai dan canggihnya oknum aparat Polri yang berada sebagai arsitek dari penyelamatan terhadap Monas.

Sebab, Jaksa tidak akan dapat berbuat apapun untuk menjerat Monas ke dalam proses hukum, sepanjang polisi memang tidak mencantumkan nama sang bandar ke dalam berkas pemeriksaan. Disinilah letak kelihaian dari oknum Polri yang “bermain”

Oknum tersebut menguasai kekurangan dan kelemahan KUHAP yang digunakan aparat penegak hukum di Indonesia.

Untuk “mengunci” gerak kalangan Jaksa agar tidak bisa menjatuhkan dakwaan apapun terhadap sang bandar yang tampaknya mempunyai beking kuat didalam internal Polri, maka modus operandi seperti ini ditumbuh-suburkan oleh Oknum Pelaku di internal Polri.

Oknum ini langsung mengirimkan SMS teror kepada Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM pada Rabu (10/12/2008) siang ini sebagai reaksi atas tulisan ini). SMS itu menunjukkan kepanikan yang sangat parah dari sang Oknum yang liar tak terkendali indikasi pelanggaran hukumnya. Oknum yang dikenal suka menyalah-gunakan penggunaan alat penyadap ini, begitu ketakutan jika keterlibatannya dalam kasus Monas terongkar.

Luar biasa !!!

Kepada KATAKAMI.COM dan Media Indonesia, hari Selasa (9/12/2008) kemarin di ruang kerjanya di Kejaksaan Agung, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) Abdul Hakim Ritonga mengatakan lewat wawancara khusus bahwa Monas tidak pernah dimasukkan namanya oleh Kepolisian dalam BAP kasus Mal Taman Anggrek,

“Semua kasus bandar narkotika, yang memiliki sindikat terorganisasi, pasti kami tuntut hukuman mati. Dalam kasus Monas, dia bukan di-BAP sebagai bandar, melainkan pengguna sabu 1,5 gram. Sesuai KUHAP (Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana), BAP yang diserahkan Polisi itulah yang dijadikan oleh Jaksa menjadi dakwaan untuk dibawa ke persidangan. Kami juga memastikan bahwa Jaksa tidak main-main dengan kasus narkoba. Bukan pelaku dan Bandar narkoba saja yang kami tindak dan tuntut sesuai hukum. Jaksa yang main-main untuk kasus narkoba, akan kami tindak tegas !” kata Ritonga. 

Jampidum Ritonga juga memerintahkan bawahannya untuk mengecek keberadaan Monas, apakah masih berada didalam tahanan. Tapi ternyata dari hasil pengecekan itu, diperoleh informasi bahwa Monas sudah “tidak ada” didalam tahanan LP Salemba. Sekali lagi, inilah permainan sulap yang menjadi skandal narkoba paling memalukan abad kini.

Bayangkan, pejabat negara selevel Kapolri sampai harus melakukan sidak ke TKP penangkapan Monas dan mengumumkan langsung kepada media massa.

Bahkan, kabareskrim ketika itu (Komjen Bambang Hendarso Danuri, kini menjadi Kapolri, red), sampai datang ke ruang kerja Jampidum Abdul Hakim Ritonga untuk menjalin koordinasi yang erat agar Kejaksaan ikut mendukung seluruh pelaku “Mal Anggrek” dihukum seberat-beratnya.

Tapi, apa yang terjadi ?

Disinilah letak permainan sulapnya. Monas, sang bandar yang disebut-sebut dan dikabarkan dekat dengan “seorang perwira tinggi berbintang tiga”, hanya menjadi SAKSI dalam persidangan pada terdakwa kasus narkoba “Mal Anggrek”.

Dan hebatnya, ketika 3 orang terdakwa dihukum MATI, Monas justru disidangkan dan mendapat vonis yang luar biasa ringannya.

Bandar yang kabarnya sudah bolak balik “lolos” dari jerat hukum ini, disidangkan karena melakukan tindak pidana “secara sengaja dan tanpa hak, melawan hukum, memiliki, menyimpan dan menguasai Psikotropika Golongan II”.

Vonisnya ?

Bukan sulap sembarang sulap, Monas yang dipergoki di Mal Taman Anggrek November 2007 itu, divonis hanya 1 tahun penjara dengan denda Rp 1 juta subsidair 1 bulan kurungan, dengan barang bukti 1,1587 sabu-sabu.

Vonis untuk Monas dijatuhkan oleh Majelis Hakim Haris Munandar SH, Agusin SH dan Daniel DP, serta Panitera Pengganti Nellyy Rusli SH. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum adalah Sultoni SH.

Monas bersama delapan rekannya di Apartemen Mal Taman Anggrek dengan barang bukti 490.802 butir atau senilai Rp49,08 miliar pada 21 November 2007. 


Pada 18 September 2008, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang diketuai Hesmu Purwanto memvonis mati tiga anggota jaringan tersebut, yakni Christian Salim alias Awe, 48, Lim Jit Wee alias Kim, 43, serta Jat Lie Chandra alias Cece, 40, istri Monas. 

Cece yang ditangkap di rumah rocker gaek Ahmad Albar tanpa barang bukti divonis mati dengan pertimbangan bagian dari sindikat terorganisasi.

Tahun 2007 lalu, terbongkarnya kasus “Mal Taman Anggrek” ini berawal dari adanya informasi bahwa ada sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Belanda hingga jutaan butir.

Didahului dengan penangkapan aparat Polisi kepada Abdurohim Di Kamar 2319 Hotel Peninsula Jakarta. Dari tangannya, Polisi menyita 9.802 butir ekstasi. Berdasarkan pengakuan Abdurohim, tanggal 21 November 2007 Polisi membekuk Lim Jit We di Kamar 30 KH dan Bhua Lik Chang di Kamar 26 KA Tower Dahlia Apartemen Mediterania.

Kemudian Polisi melakukan penggerebekan di Apartemen Taman Anggrek Tower 5 Kamar 19 A. Disitulah bandar kelas KAKAP Monas alias Lim Piek Kiong ditangkap.

Kapolri Sutanto yang “meninjau” TKP memberitahukan kepada wartawan bahwa sindikat Monas ini berencana membangun pabrik ektasi di Indonesia. Untuk mewujudkan rencana itu, mereka berniat mendatangkan enam orang ahli kimia asal Cina.

Bagaimana sebenarnya komitmen dari Pemerintah Indonesia dalam memberantas narkoba ?

Bagaimana pertanggung-jawaban dari Polri terhadap penempatan perwira tinggi dalam pos jabatan yang strategis dalam pemberantasan narkoba, padahal nama perwira tinggi itu memang sangat “santer” menjadi sahabat sangat amat rapat luar biasa dengan bandar dan mafia narkoba internasional ?

Rakyat jenuh terhadap segala kepura-puraan dan ketidak-jujuran !

Rakyat jenuh dengan sandiwara dan lakon tak bermoral dari oknum aparat yang mempermainkan hukum di negeri yang tercinta ini !

Rakyat sudah terlalu mual dan mau muntah dengan semua aksi bau terasi dari oknum yang mencari keuntungan dan kekayaan bagi dirinya sendiri !

Dimana, implementasi dari slogan dan jargon-jargon, “NEGARA TIDAK BOLEH MELAWAN NARKOBA ?”

Betapa pedih dan perih hati dan jiwa rakyat di negeri ini, lihatlah, bandar dan mafia narkoba internasional yang sangat berbahaya di muka bumi ini, dibiarkan lolos dari jerat hukum dengan semua akal-akalan yang canggih, rapi dan terorganisir secara profesional untuk meloloskan sang bandar yang biadan dan laknat ini.

Benarkah “NEGARA TIDAK BOLEH KALAH MELAWAN NARKOBA ?”

Dengan lolosnya bandar biadab dan laknat semacam Monas, dengan hanya divonis 1 tahun penjara dan barang bukti HANYA 1,1587 gram sabu sabu, tampaknya NEGARA MEMANG AKAN KALAH MELAWAN NARKOBA.

Ibu pertiwi sudah sepantasnya menangisi hal ini ….

Siapa beking dari Monas ?

Siapa oknum perwira tinggi yang mendapat setoran uang dari Monas ?

Siapa yang memerintahkan agar Monas tidak dimasukkan namanya dalam berkas BAP penyidik Kepolisian agar Jaksa tak akan pernah bisa mendakwa bandar biadab dan laknat itu ?

Mengapa harus ada sandiwara ?

Mengapa harus ada permainan yang sekotor ini dan sangat tidak bermoral ?

Entahlah …

Tapi tidak ada kata terlambat untuk penegakan hukum, tangkap bandar busuk yang sangat berbahaya itu dimanapun ia berada saat ini. Tangkap oknum Perwira Tinggi Polri yang menjadi beking sang bandar. Penjarakan keduanya di dalam jeruji besi yang sama. Adili dan hukum seberat-beratnya. Tidak cuma menghukum si bandar, tetapi juga beking yang sangat tak bermoral ini.

Indonesia akan ditertawakan oleh dunia internasional bila terus menerus memelihara “abdi negara” yang berperilaku seperti iblis. Bayangkan, berulang-ulang kali melakukan pelanggaran hukum yang sama yaitu sengaja meloloskan bandar dan mafia narkoba sekotor ini.

Siapa bekingnya ?

Siapa ?

Katakan sejujurnya kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia, siapa beking dari bandar narkoba yang busuk ini agar hukum dapat ditegakkan kembali sebenar-benarnya.

(MS)

Filed under: Uncategorized

Peringatan Keras Dari REDAKSI KATAKAMI Terkait Intervensi, Gangguan, Tekanan & Pengrusakan Yang Patut Dapat Diduga Terus Dilakukan Oleh Agen Intel BIN Dan Oknum POLRI, Terutama Oknum Berinisial Ptr Gls Dan GM

1-gm2

JAKARTA (KATAKAMI)  Mohon kepada pihak tertentu yang hobi menjebol KEDUA BLOG KATAKAMI DI WORDPRESS, terutama kami perhatikan anda semua sangat ketagihan membuat kutipan-kutipan berdasarkan kepentingan anda pribadi. 

Perbuatan anda-anda ini kecenderungannya merusak karya orang lain. Hormati aset, properti, kehidupan pribadi, hak-hak orang lain, terutama hak-hak hukum. 

2030-gm7

Kami ingatkan untuk tidak membiasakan diri mencampuri, mengintervensi dan mengotori kedua blog kami dengan perbuatan-perbuatan kotor anda. 

Termasuk mempermainkan posisi foto dan konten berita lain di KEDUA BLOG KATAKAMI DI WORDPRESS. Kami ingatkan untuk tidak menyalah-gunakan peralatan teknologi yang bisa diakses untuk perbuatan yang menyalahi hukum.

1212-wahyusanti3

Perbuatan anda (dari pihak tertentu yang patut dapat diduga dari oknum agen intel BIN dan oknum tertentu dari internal POLRI, hentikan semua kebiasaan buruk anda sekalian pada SITUS BERITA KATAKAMI dan kedua BLOG KAMI DI WORDPRESS ini !

Kami sudah BOSAN LUAR BIASA mendapat intervensi, gangguan dan aksi pengrusakan dari anda. Catat itu ! 

Kasus BANDAR NARKOBA Liem Piek Kiong Alias MONAS

Kasus BANDAR NARKOBA Liem Piek Kiong Alias MONAS

Terutama kepada anda, oknum GM. Anda sudah sangat keterlaluan,  tidak tahu diri dan tidak tahu berterimakasih. Patut dapat diduga anda ini menderita paranoid dan sakit yang sangat akut dalam hal moralitas. Anda ingin dipuji dan diangkat-angkat dalam pemberitaan soal PENANGANAN TERORISME (agar anda bisa mengaburkan semua indikasi perbuatan melawan hukum yaitu dugaan keterlibatan dalam kasus BANDAR NARKOBA LIEM PIEK KIONG ALIAS MONAS, tetapi disertai ancaman pada media kami yaitu patut dapat diduga jika kami tidak mau memuat berita anda terkait PENANGANAN TERORIS HAMBALI, maka anda akan langsung merusak SITUS ini dan KEDUA BLOG KATAKAMI.

111-vivik1

Termasuk patut dapat diduga merusak KONEKSI INTERNET kami. Anda hobi mengintervensi media kami dan karya-karya jurnalistik kami. Anda merasa sebagai PEMILIK & PENGUASA TUNGGAL terhadap media kami. Satu peserpun tidak ada UANG ANDA hai oknum GM dalam operasional media kami. Patut dapt diduga anda akan langsung merusak apapun juga di SITUS ini dan KEDUA BLOG KATAKAMI DI WORDPRESS, kalau sudah ada berita tentang BANDAR NARKOBA MONAS & OKNUM POLWAN yang patut dapat diduga BERSELINGKUH dengan ANDA.

Perbuatan anda memalukan sekali. Kami lelah sekali menghadapi tekanan, gangguan dan ancaman dari pihak yang patut dapat diduga dari AGEN INTEL BIN suruhan oknum JWS dan BS, terutama oknum internal POLRI. Terutama oknum Ptr Gls & GM.  (Dari REDAKSI KATAKAMI)

Filed under: Uncategorized

Jangan Jadi Jamintel Dong, Hendardji Supandji Lebih Tepat Jadi KSAD Atau Sekalian Jadi Jaksa Agung

ASPAM KSAD Mayjen Hendardji Supandji

ASPAM KSAD Mayjen Hendardji Supandji

 JAKARTA (KATAKAMI)  Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba di hari Jumat (13/3/2009) ini beredar isu bahwa adik Hendarman Supandji akan dipromosikan menjadi Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) untuk menggantikan Wisnu Subroto. 

Saat ini Hendardji Supandji, anak ke-4 dari pasangan Alm. Brigjen. Dr. Soepandji – Roesmijati itu menjabat sebagai Asisten Pengamanan Kepala Staf TNI-AD (Aspam). Hendarji, juga dikenal sebagai Pengurus KONI PUSAT.

Jaksa Agung Hendarman Supandji menanggapi ringan isu tersebut dan malah menjadikannya sebagai bahan gurauan kepada sang adik.

“Ngapain saya jadi Jamintel. Kalau perlu saya gantiin kamu biar nanti tak perbaiki semua,” kata Jaksa Agung Hendarman Supandji menirukan ucapan adiknya, usai sholat Jumat di Masjid Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat, (13/3/2009).

Penyataan Hendardji itu disampaikan kepada Hendarman tadi pagi melalui telepon.

“Saya bilang ke dia, eh kamu dirumorkan jadi Jamintel. Eh tertawa dia,” lanjut Hendraman disambut tawa wartawan.

Hendarman kembali menegaskan, Wisnu Subroto masih belum pensiun. Bahkan menurut ketentuan yang berlaku, Wisnu baru memasuki masa pensiun dua tahun lagi yakni pada 2011 mendatang.

“Saya belum rapat, lah masih jauh kok dan ini masih terlalu pagi.  Jamintel ini belum pensiun loh masak saya sudah menyiapkan?” ungkap Hendarman.

*****

Kepada KATAKAMI.COM lewat wawancara eksklusif Jumat (13/3/2009), Mayjen Hendardji membantah semua isu yang berhembus mengenai perpindahan tugas dirinya ke Kejaksaan Agung.

“Begini lho Pak Aspam, ada isu hari ini, katanya Pak Aspam akan segera pindah tugas ke Kejaksaan Agung. Benar atau tidak ?” tanya KATAKAMI.COM kepada Hendardji Supandji.

“Kabarnya dari mana ?” jawab Hendardji sembari balik bertanya.

“Dari pemberitaan media massa-lah. Wartawan malah sudah bertanya langsung ke Jaksa Agung. Kalau KATAKAMI ya, untuk apa tanya ke Jaksa Agung. Mendingan tanya langsung kepada orangnya, apakah benar Pak Aspam akan pindah ke Kejaksaan Agung ?” tanya KATAKAMI kembali kepada Hendardji.

“Ndak betul itu, sampai saat ini tugas saya masih tetap sebagai Aspam dan saya belum dengar ada perintah baru untuk perpindahan alih tugas ke sana” jawab Hendardji Supandji.

“Kami kira sudah bakal pindah jadi sekantor dengan Kang Mas-nya. Ya lumayan toh, bisa numpang mobil dinas RI-47 kalau mau ngantor, hemat bensin” lanjut KATAKAMI seraya bergurau.

Mobil Camry RI-47 adalah mobil dinas Jaksa Agung Hendarman Supandji.

“Ndak, Ndak, ndak betul itu. Saya malah baru dengar ada kabar begitu,” jawab Hendardji dan langsung tertawa saat mendengar gurauan bahwa ia bisa numpang mobil sang kakak kalau mau ke kantor jika memang benar akan menjadi Jamintel.

“Baiklah Pak Aspam, terimakasih lho ya. Jangan jadi Jamintel dong, bagaimana sih ? Hendardji itu jauh lebih kapabel untuk dipromosikan jadi Wakasad, atau KSAD sekalian. Kalau cuma Jamintel, namanya cuma geser kursi ke sebelah doang. Terimakasih ya Pak Aspam” sahut KATAKAMI.COM lepada Hendardji Supandji, yang memang sudah kami secara baik sekali.

*****

Hendarman Supandji, Kakak Hendardji Supandji

Hendarman Supandji, Kakak Hendardji Supandji

Hendardji, Mantan Komandan Puspom TNI, adalah figur yang sangat tegas, keras dan disiplin. Keras dalam arti disiplin. Ia bahkan jauh lebih tegas dan keras dalam menerapklan disiplin kerja, dibandingkan Hendarman Supandji sang kakak.

Tak heran kalau Hendardji terus diberi kepercayaan dalam bidang penyidikan untuk urusan pelanggaran disiplin di lingkup TNI. Jauh sebelum menjadi Komandan Puspom TNI, Hendardji juga menjabat sebagai Komandan Puspom Kodam Jaya.

Ketegasan dan keberanian Hendardji dalam menangani berbagai pelanggaran ini, pernah menjadi gurauan tersendiri bagi Panglima TNI Jenderal Joko Santoso. Gurauan yang konotasinya positif untuk menggambarkan bahwa Hendardji adalah figur yang sangat tegas.

“Hendarji itu cocok buat nangani yang “aneh-aneh”. Jadi kalau buat mengurusi TNI-TNI yang nakal ini, serahkan saja ke Hendardji, pasti beres. Wis … pokoke serahin ke Hendardji” kata Panglima TNI Joko Santoso kepada KATAKAMI.COM dalam satu kesempatan.

Akan tetapi, rasanya agak sulit untuk Hendardji bisa lebih lama berkiprah di TNI sebab perwira tinggi ini akan memasuki masa purna bhakti pada tahun 2009 ini. Ia angkatan 1974. Artinya, pada tahun 2009 ini Hendardji akan memasuki masa pensiun.

Namun, mengingat perwira tinggi yang satu ini sangat tinggi kapabilitasnya, sayang kalau disia-siakan. Kalau mau jujur, Hendardji jangan ditempatkan sebagai Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) tetapi langsung menempatkannya sebagai Jaksa Agung untuk menggantikan sang kakak Hendarman Supandji.

Jaksa Agung Hendarman Supandji

Jaksa Agung Hendarman Supandji

 Persis bulan Mei 2009 nanti, Hendarman genap 2 tahun menjadi Jaksa Agung.  Jika Presiden SBY punya pemikiran untuk melakukan perombakan di jajaran Kejaksaan Agung yaitu mencari alternatif pengganti Jaksa Agung Hendarman Supandji, tidak ada salahnya mempertimbangkan nama Hendardji Supandji. Mengganti seorang pejabat tinggi, tidak harus karena ia melakukan kesalahan atau pelanggaran baru dicopot. Tetapi untuk lebih meningkatkan kinerja Kejaksaan Agung, sah-sah saja posisi Jaksa Agung diganti.

Dan percayalah, jika penggantinya Hendardji Supandji maka … beres semua yang “kacau balau” di Kejaksaan Agung. Perbedaan sifat dari Hendarman dan Hendardji, ibarat langit dan bumi.

Hendarman, lebih banyak rasa sungkannya atau ewuh pakewuh. Tetapi tidak demikian pada diri Hendardji. Ia tegas dan keras dalam penerapan disiplin. Perlu memberikan pimpiman yang sangat tinggi kapabilitas dan jaminan mutu moralitasnya untuk memimpin sebuah lembaga sebesar Kejaksaan Agung.

Jadi, istilah guyonnya, daripada Hendarjdi nebeng di mobil dinas RI-47 milik Jaksa Agung, ya jauh lebih baik mobil dinas itu diserah-terimakan kepada sang adik yang memang punya kapabilitas lebih tinggi.

Monggo Pak Presiden, silahkan dipertimbangkan.

 (MS)

Filed under: Uncategorized

Menyoal Buku Jenderal Sintong Panjaitan, Tak Eloklah Jika Ramai-Ramai Menuding Muka Wiranto & Prabowo Subianto. KOMANDO !!!

 

Buku Yang Diterbitkan Letjen Purn. Sintong Panjaitan

Buku Yang Diterbitkan Letjen Purn. Sintong Panjaitan

Oleh : MEGA SIMARMATA, PEMIMPIN REDAKSI KATAKAMI

Jakarta 13/3/2009 (KATAKAMI)  Siapapun juga yang membuat karya buku patut dihargai. Jarang orang yang menyadari dan mau secara terus-menerus membuat karya buku. Selain karena ongkos untuk memproduksi buku itu tidak sedikit,  laba atau keuntungan yang bisa didapat juga tak begitu signifikan.

Tetapi ada kepuasan, kebanggaan dan nilai tersendiri bagi siapapun yang menerbitkan karya buku.

Hari Kamis (12/3/2009) ini, Letjen Purnawirawan Sintong Panjaitan — mantan Pangdam Udayana — meluncurkan buku karya dirinya Dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’.  Dan salah satu yang jadi kontroversi serta buah bibir tersendiri adalah tudingan yang menyatakan bahwa Prabowo pernah hendak ‘mengamankan’ sejumlah perwira yang didengarnya hendak melakukan kudeta.

Almarhum Jenderal Benny Moerdani Yang Sangat Mengagumkan Kharisma Dan Prestasinya

Almarhum Jenderal Benny Moerdani Yang Sangat Mengagumkan Kharisma Dan Prestasinya

Menurut Sintong, tuduhan bahwa Jenderal LB Moerdani akan melakukan coup d’etat hanya dilakukan oleh orang sakit. Hal ini, tulis Sintong di buku tersebut, tidak berbeda dengan kedua putra Presiden Irak Saddam Hussein yang lebih ditakuti, daripada para panglima Angkatan Bersenjata Irak. Dalam perkembangan selanjutnya, LB Moerdani dituduh tidak loyal pada Soeharto yang kemudian melahirkan istilah debennysasi. Moerdani sendiri sebelumnya adalah orang kepercayaan Soeharto.

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

Yang ingin kami sampaikan disini adalah Sintong berhak mengeluarkan buku karya dirinya. Berhubung buku ini adalah domain atau wilayah pribadi dari Sintong maka isi dari buku itupun menjadi otoritas atau kewenangan penuh dari Sintong.

Patut dapat diduga buku ini memang di-setting untuk “menggunting” langkah Prabowo Subianto yang akan maju sebagai salah seorang CAPRES lewat Pemilihan Umum Pemilihan Presiden atau Pemilu Pilpres 2009 sebab “timing” atau waktu penerbitan buku ini dipilih sebulan sebelum pelaksanaan Pemilu Legislatif 2009 tanggal 9 April 2009 mendatang.

Sebagai CAPRES dari Partai Gerindra tentu Prabowo secara konsisten akan mendorong perolehan suara yang terbanyak dan terbaik bagi Partai Gerindra.

Tiba-tiba muncul buku yang patut dapat diduga ingin menuding muka Prabowo sebagai prajurit komando yang bobrok moralitasnya, terutama dikaitkan dengan rencana kudeta.

Jenderal LB Moerdani, Sosok Yang Sangat Pantas Dihormati & Akan Selalu Dikenang Sepanjang Masa

Jenderal LB Moerdani, Sosok Yang Sangat Pantas Dihormati & Akan Selalu Dikenang Sepanjang Masa

Kami memang perlu membaca buku Sintong secara lebih seksama agar mengetahui secara pasti, apa yang disampaikan dalam buku itu.

 

Tetapi kalau membaca ulasan di berbagai media massa online, isu kudeta itu justru diarahkan kepada LB Moerdani dan yang dituduh sebagai otak pelaku atau biang kerok yang menuding Pak Benny mau kudeta adalah Prabowo.

Kalau kami tidak salah dalam mengartikannya, seperti itulah kira-kira. Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa baru sekarang Sintong “bunyi” soal kejadian yang terjadi tahun 1983 ?

Ini ibarat dongeng anak-anak yang selalu didahului dengan kalimat, “Pada zaman dahulu kala, hiduplah si A, si B dan si C”. Atau dalam bahasa Inggrisnya, dongeng anak-anak itu selalu didahului dengan kalimat, “Once upon a time …..”.

Bayangkan, mengisahkan kejadian yang terjadi 26 tahun yang lalu untuk isu soal kudeta Pak Benny. Lalu, mengisahkan hal ihwal seputar masa transisi dari Pak Harto kepada Pak Habibie tahun 1998. Artinya, itu kejadian 11 tahun yang lalu.

Patut dapat diduga, dari rangkaian perjalanan waktu selama puluhan tahun yang dialami oleh Sintong ini maka sasaran tembak yang menyebabkan Sintong sakit hati adalah Prabowo Subianto.

Isu soal kudeta menyangkut Almarhum Benny Murdani yang sangat mengagumkan itu, sebenarnya lebih tepat jika disampaikan langsung oleh Pak Benny sendiri dalam karya bukunya. Kami harus membaca lagi apakah secara rinci, isu kudeta tahun 1983 ini dijawab secara khusus oleh Pak Benny dalam buku memoar yang pernah diterbitkannya semasa hidup.

*****

Istana Negara

Istana Negara

Lalu isu soal kedatangan Prabowo ke Istana Presiden untuk menemui Presiden Habibie, yang dikisahkan Sintong adalah perintahnya kepada Prabowo untuk meninggalkan senjata api yang dibawanya.

 

Menurut prosedur yang berlaku, para tamu presiden harus menunggu dahulu di lantai dasar, di sini mereka harus diperiksa dan disterilkan. Setelah tamu mendapat persetujuan bahwa ia akan diterima presiden baru diizinkan naik lift menuju lantai 4. Sintong mendapat laporan dari ajudan presiden bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya.

“Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap,” jelas Sintong.

Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo.

Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel.

Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang s0pan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan. 

*****

Begini, sebagian besar anggota TNI / POLRI memiliki senjata api sendiri. Termasuk para petingginya. Ini hal yang biasa terjadi. Semua petinggi TNI / POLRI, bahkan yang sudah pensiun sekalipun, bisa jadi memiliki senjata api masing-masing.

Perihal kedatangan Prabowo ke Istana Presiden membawa senjata api, hendaklah jangan terlalu didramatisir. Sebab, bisa muncul fitnah bahwa seolah-olah Prabowo datang untuk menembak Presiden Habibie. Terlalu kejam rasanya kalau seenaknya saja kita memfitnah orang. Bisa jadi tidak begitu kejadiannya.

Mengapa ini perlu disampaikan ?

Oke, saya ajak anda semua membayangkan bahwa seorang Prabowo datang ke Istana Presiden. Prabowo, perwira tinggi berbintang 3. Ia pasti dikawal ajudannya. Baik Prabowo, ataupun ajudannya, pasti membawa senjata api.

Di Istana Presiden, ada pos pemeriksaan yang melewati metal detector. Paspampres yang bertugas di Istana Presiden adalah Pasprampres dari Group A.

Sudah menjadi prosedur tetap di Istana Presiden bahwa semua orang yang membawa senjata api harus meninggalkannya. Tetapi ketika Prabowo datang, Paspampres yang bertugas sungkan karena rata-rata mengenal Prabowo sebagai menantu dari penguasa yang sangat lama memerintah di Indonesia yaitu Pak Harto.

Sekarang yang jadi pertanyaan, siapa yang salah jika anggota Paspampres sungkan memeriksa atau menahan Prabowo ? Apakah Prabowo yang salah kalau kejadian seperti itu ? Tidak tepat bahasa yang digunakan bahwa tidak ada yang bisa mencegah Prabowo mau masuk menerobos ke Kantor Presiden.

Sintong harus hati-hati kalau menjabarkan segala sesuatu. Disini, yang salah adalah Anggota Paspampres yang bertugas saat itu, lalu Komandan Group A dan Komandan Paspampres. Mengapa mereka tidak secara tegas meminta Prabowo meninggalkan senjatanya di pos penjagaan ?

Dan Sintong harus diberitahu bahwa ternyata ketika itu pengamanan Paspampres saat Habibie berkuasa sangat lemah.

Mengapa disebut lemah ?

Jangankan sampai di Bina Graha, jika ada tamu penting saja baru masuk ke halaman Istana Presiden maka informasinya sudah cepat dilaporkan oleh Paspampres melalui Handy Talkie (HT). Lama sekali informasinya kalau Ajudan Presiden dan Sintong sebagai penasehat keamanan baru tahu ada Prabowo setelah mantan Pangkostrad ini mau naik ke Lantai 4.

Untung waktu itu belum ada teroris kelas kakap seperti Hambali atau Noordin M. Top. Bagaimana kalau zaman itu sudah berseliweran teroris kelas kakap yang sangat lihat dan berbahaya ?

Saya bisa menjelaskan prosedur semacam ini  karena saya bertugas meliput di Istana Kepresidenan yaitu sebagai Wartawan Istana dari mulai tahun 1999 – 2008. Selama 9 tahun, saya melihat situasi di dalam Istana Kepresidenan. Jadi, penyampaian sebuah peristiwa haruslah bijaksana agar jangan ada pihak lain yang menjadi terpojok karena penyampaian yang kurang bijak tadi.

Lalu, tanpa mengurangi rasa hormat yang sangat tinggi kepada Jenderal Sintong yang sangat loyal kepada negara ini, saya secara pribadi juga ingin mengkritik dan membeberkan salah satu kelemahan dari Pemerintahan BJ Habibie dulu.

Terutama, jika memang saat Habibie berkuasa Jenderal Sintong adalah penasehat bidang keamanan.

Ceritanya begini, Ketua Komisi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mary Robinson datang berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Habibie. Sudah barang tentu, topik yang dibicarakan adalah aksi kekerasan pasca jajak pendapat di Timtim.

Jenderal Wiranto ikut mendampingi Presiden Habibie bertemu Mary Robinson. Habibie sangat senang sekali karena ternyata dari hasil pertemuan itu, konon kabarnya Mary Robinson berbicara “datar-datar saja” dan penuh diplomasi. Artinya, tidak ada indikasi bahwa Indonesia akan dipermasalahkan mengenai pelanggaran HAM di Timtim.

Selama di Indonesia, Mary Robinson secara intens berbicara dan bertemu dengan aktivis HAM Ratna Sarumpaet.

Saya bersahabat dekat dengan Kak Ratna Sarumpaet dan ia menceritakan poin-poin penting pertemuan atau pembicaraannya dengan Mary Robinson. Intinya, Komisi HAM PBB mengincar Indonesia terhadap semua aksi kekerasan yang terjadi pasca jajak pendapat di Timtim. Sebab masuk dalam kategori genosida.

Saya laporkan informasi itu kepada Jenderal Wiranto. Sebab saya memang bekerja secara profesional sebagai staf khusus media bagi Jenderal Wiranto sejak beliau KSAD sampai Menhankam / Panglima TNI.

Jadi, pada saat Mary Robinson bertemu Habibie dan berdiplomasi bahwa Komisi HAM PBB tidak akan “mempermasalahkan” Indonesia — khususnya TNI — untuk masalah kekerasan pasca jajak pendapat di Timtim, Wiranto sudah tahu niatan sebenarnya dari Mary Robinson datang ke Indonesia sebab laporan saya sebagai staf khusus sudah dengan sangat cepat masuk ke meja kerja Jenderal Wiranto.

Sebagai Staf Khusus, saya diberi akses menghubungi beliau kapan saja dan dimana saja, terutama bila ada masukan, analisa atau informasi yang sangat penting.

Saat Wiranto mengatakankepada Presiden Habibie bahwa Mary Robinson datang ke Indonesia adalah untuk mencari bukti-bukti dan informasi untuk kepentingan “menyeret” Indonesia atas tuduhan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Timtim, Habibie tidak percaya.

Persis sehari sebelum saya menikah (September 1999), Jenderal Wiranto menghubungi saya secara tiba-tiba.

“Ga, maaf saya minta tolong sedikit, coba kamu re-check lagi isi pertemuan Ratna dengan Mary Robinson. Saya perlu informasinya sekarang, Ga !” kata Jenderal Wiranto.

“Oke Pak, saya hubungi secepatnya bila sudah dapat” jawab saya yang ketika itu sedang berada di Gedung yang akan menjadi tempat pelaksanaan pesta adat Tapanuli dari pernikahan saya.

Tidak lama setelah Jenderal Wiranto menghubungi saya, saya pun langsung menghubungi Ratna Sarumpaet. Ratna tidak tahu bahwa saya staf khusus media bagi Jenderal Wiranto tetapi Ratna tahu bahwa relasi saya sangat kuat di jajaran TNI. Saya berbasa-basi sejenak dan akhirnya masuk pada inti permasalahan soal Mary Robinson.

Komisi HAM PBB memang betul akan mempermasaahkan Indonesia.

Saya laporkan kepada Jenderal Wiranto hanya dalam hitungan menit kemudian. Wiranto berterimakasih karena dengan cepat saya bisa melaksanakan tugas yang sifatnya penting.

Yang mau disampaikan disini adalah Jenderal Sintong sebagai Penasehat Keamanan bagi Presiden Habibie dan ring satu Kepresidenan saat itu, patut dapat diduga kurang peka dalam hal pengumpulan informasi yang lebih luas mengenai maksud utama dari kedatangan Ketua Komisi HAM PBB.

Sehingga, patut dapat diduga juga Pemerintahan BJ Habibie bukanlah pemerintahan yang sangat ideal.

Melepaskan sebuah daerah menjadi negara yang merdeka tersendiri, sesungguhnya adalah sebuah pengingkaran terhadap NKRI, toh ? Lalu, jika ada ekses dari pemisahan diri itu maka negara tidak bisa lepas tangan dari semua kebijakan yang terkait mengenai itu.

Dan kalau bicara soal kerusuhan 1998, tidak benar jika disebutkan TNI tidak berbuat apa-apa dan layak dituding-tuding sebagai pihak yang harus bertanggung-jawab.

TNI dan Polri bekerja maksimal ketika itu. Kita jangan memposisikan diri seolah-olah menjadi pengamat dalam pertandingan sepakbola. Sebab, pengamat dalam pertandingan sepakbola pasti akan merasa lebih tahu dari si pemain yang sedang bertanding. Maksudnya, janganlah kita cepat menyalahkan dan menuding-nuding muka orang lain. Mari bijaksana. Kita harus bijaksana.

*****

JENDERAL WIRANTO

JENDERAL WIRANTO

Singtong cuma tahu 1 peristiwa dan saya tahu 2 peristiwa lainnya yang Jenderal Sintong barangkali tidak tahu soal ini. 

Tahun 1998 lalu, saya masih bekerja di Radio Trijaya FM Jakarta. Bambang Trihatmodjo yang memberikan rekomendasi kepada Peter F. Gontha agar saya diterima sebagai penyiar dan wartawati di radio itu. Peter F. Gontha yang sedang berada di Jepang langsung pulang ke Indonesia, ketika Mas BT menghubungi dirinya agar segera pulang karena ia mau menitipkan seseorang untuk bekerja.

Sehari kemudian, Peter F. Gontha sudah langsung membeli tiket untuk pulang ke Indonesia. Dan alangkah terkejutnya Peter sebab orang yang “dititip” untuk bekerja oleh anak presiden sangat berkuasa ketika itu, cuma ingin menjadi penyiar dan wartawati di radio saja.

Tetapi walaupun saya bekerja di Radio Trijaya FM Jakarta, saya juga sudah direkrut dan bekerja secara profesional sebagai staf khusus di bidang media oleh Menhankam  / Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto.

Saya termasuk saksi sejarah yang tahu “sedikit-sedikit” untuk hal tertentu saja.

Mas Bowo (Prabowo Subianto, redaksi), tidak cuma menemui Presiden Habibie. Beliau juga datang kok menemui Pak Wiranto dan Pak Subagyo HS yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Kepada kedua seniornya ini, Mas Bowo mengeluhkan pencopotan dirinya. Sebagai adik, ia gundah atas pencopotan itu. Baik Pak Wiranto ataupun Pak Subagyo, mereka tidak berburuk sangka bahwa Mas Bowo datang mau menembak mereka misalnya. Prabowo membawa senjata api juga kok. Tetapi memang tidak ada niatan untuk menembak siapapun. Ia hanya ingin berkeluh kesah.

Misalnya, dalam pertemuan dengan Pak Wiranto. Yang menyapa terlebih dahulu adalah Pak Wiranto, “Opo … Ono opo, Wo ? tanya Wiranto dalam bahasa Jawa yang artinya Apa, ada apa Wo ?.

Seusai pertemuan itu, Jenderal Wiranto menghubungi saya untuk mendiskusikan beberapa hal dan menampung masukan-masukan dari saya sebagai staf khusus beliau. Cerita tentang kedatangan Prabowo ini disampaikan sekilas oleh Pak Wiranto. Saya juga mendengar kisah pertemuan antara Pak Subagyo HS Dengan Mas Bowo.

Tetapi walaupun saya tahu langsung isi pertemuan itu, tidak etis jika saya yang menyampaikan secara detail. Namun intinya tetap sama yaitu Mas Bowo berkeluh kesah tentang pencopotan itu.

*****

Saya menguraikan ini sebagai kesaksian lain dari seorang anak bangsa yang kebetulan dalam lembaran perjalanan sejarah mengetahui seucil informasi untuk melengkapi kisah perjuangan Letjen Sintong Panjaitan.

Saya hanya ingin semua pihak bijaksana dalam menyikapi perjalanan bangsa ini. Alangkah baiknya jika semua pihak melakukan rekonsiliasi.

Apapun bentuk sakit hati, dendam, luka bathin atau ketersinggungan yang dalam sesama anak bangsa, mari dengan segala ketulusan dan kerendahan hati untuk saling memaafkan.

Indonesia ini negara hukum. Perihal kerusuhan Mei 1998, sudah ada proses hukumnya. Lalu, siapa yang mesti disalahkan jika negara atau pemerintah tidak  menetapkan orang per orang untuk dipersalahkan ?

Sekarang kalau mau main salah-salahan, sebelum Jenderal Sintong bicara tentang kerusuhan 1998, bagaimana kalau Jenderal Sintong bicara dulu tentang kerusuhan Santa Cruz di Timor Timur tanggal 12 November 1991 ?

Tangisan Keluarga Korban Santa Cruz Yang Menangisi Anggota Keluarga Mereka Yang Ditembaki Secara BRUTAL !

Tangisan Keluarga Korban Santa Cruz Yang Menangisi Anggota Keluarga Mereka Yang Ditembaki Secara BRUTAL !

Semua orang, siapapun itu, pasti tidak mau dipersalahkan dan akan tetap mencari pembenaran diri.

Tetapi jika terjadi sesuatu yang merupakan kesalahan atau pelanggaran dalam struktur atau dunia kemiliteran maka wajib hukumnya bagi komandan untuk bertanggung-jawab. Pencopotan Sintong sebagai Pangdam Udayana karena insiden Santa Cruz itu adalah bagian dari pertanggung-jawaban itu.Presiden SBY secara khusus meletakkan karangan bunga di Komplek Pemakaman Santa Cruz saat berkunjung ke Timor Leste April 2005.

Ratusan orang tewas ketika berunjuk rasa di Komplek Pemakaman Santa Cruz Dili November 1991.

Ketika itu, tentara Indonesia menembaki para demonstran yang berkumpul di Komplek Pemakaman Santa Cruz untuk memberikan penghormatan kepada aktivis kemerdekaan Sebastiao Gomez yang sudah lebih dahulu tewas akibat terjangan peluru militer Indonesia.

Tahukah Sintong bahwa INDONESIA menjadi sangat terpojok dimata dunia internasional akibat insiden Santa Cruz itu ?

Tahun 2008 lalu misalnya, tiba-tiba saja Pemerintahan Timor Leste mengundang Tim Forensik dari Australia untuk menggali kembali kuburan para korban Santa Cruz. Dan jika ditemukan ada pelanggaran HAM maka Indonesia diminta bertangung-jawab atas insiden Santa Cruz.

Sebuah insiden yang terjadi puluhan tahun lalu, masih terus diungkit-ungkit oleh rakyat dan Pemerintahan Timor Leste.

Dan Sintong patut dapat diduga akan menjadi orang nomor satu yang “dibidik” oleh rakyat dan Pemerintah Timor Leste.

Tahun 2008 lalu, rencana pembongkaran kuburan korban Santa Crua ini saya pertanyakan kepada Menteri Pertahanan Prof Dr Juwono Sudarsono. Jawaban beliau seperti ini, “Hendaknya Timor Leste menyadari bahwa lebih bijaksana jika kita ini bertetangga dengan baik. Janganlah terus menerus mempersalahkan dan terus menerus menyudutkan TNI. Sebab Timor Leste juga punya kesalahan,” demikian kata Menhan Juwono Sudarsono.

Tidak usah jauh-jauh bicara tentang kerusuhan 1998, nama Sintong terkait dalam kerusuhan Santa Cruz tahun 1991. Istilah terkait disini, bukan untuk mengatakan bahwa Sintong yang bersalah. Sama sekali bukan itu maksudnya. Tetapi, setiap berbicara tentang insiden Santa Cruz maka nama yang dianggap paling bertanggung-jawab adalah Sintong Panjaitan, sebab ketika insiden itu terjadi Sintong bertugas sebagai Pangdam Udayana.

*****

Dan kalau bicara tentang Prabowo Subianto, tidak perlu orang per orang yang merasa paling tahu atau paling berhak menghakimi Prabowo. Serahkan saja pada proses hukum. Dan proses hukum yang dijalankan selama ini terkait kerusuhan 1998, tidak menyebutkan dan menetapkan bahwa Prabowo terlibat.

Di dalam sebuah negara hukum seperti Indonesia, hukum tidak bisa dianalogikan dengan asumsi atau praduga semata. Ada istilah, asas praduga tak bersalah atau presumption of innocent.

Hukum, sekali hukum, yang harus dihormati dan dijadikan tolak ukur dalam menilai sebuah kasus atau permasalahan. Tidak ada satu warga negarapun di republik ini yang bisa mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, paling tahu dan paling berhak menentukan definisi tentang salah atau benarnya orang lain dalam kasus-kasus yang tersangkut dengan dirinya.

Prabowo Subianto sudah ditetapkan sebagai kandidat capres 2009.

Let it flow.

Biarlah semua berjalan seperti hembusan angin. Tak usah dibendung atau dihalangi dengan semua cara yang kurang bijaksana. Rakyat yang menentukan, apakah mereka mau memilik Prabowo atau tidak. Tanpa harus dibuatkan buku, dibeberkan kepada media massa secara nasional dan internasional, rakyat bisa memilih dan menentukan sendiri siapa pemimpin yang ingin mereka pilih.

Kan tidak enak rasanya kalau misalnya muncul seorang warga Timor Leste atau siapapun yang berteriak-teriak dalam jumpa pers, “Adili Sintong Panjaitan, bawa ke ke Mahkamah Internasional. Kembalikan anggota keluarga kami yang mati dalam insiden Santa Cruz !”. Ini hanya ilustrasi saja. Tetapi coba bayangkan jika ada yang meledak-ledak emosinya menuduh Sintong secara sinis dan emosional seperti itu.

Pasti Pak Sintong tidak terima dituding-tuding dan dipermalukan seperti itu.

 

CAPRES 2009 Dari Partai Hanura, WIRANTO

CAPRES 2009 Dari Partai Hanura, WIRANTO

Mari, kita saling berjabatan tangan dan melakukan rekonsiliasi. Tahun 2009 ini adalah tahun politik. Berpolitiklah kita secara santun dan terpelajar. Tidak perlu saling menjelekkan, membusukkan dan melakukan pembunuhan karakter.

 

Bukan salah Prabowo dan bukan salah Wiranto, jika lewat kiprah mereka di panggung perpolitikan nasional, sebagian rakyat mulai jatuh hati pada figur mereka. Kita tidak mungkin melarang satu per satu rakyat Indonesia seantero nusantara untuk wajib menyukai dan memilih figur tertentu, dan membenci atau menolak figur lainnya.

Rekonsiliasi, adalah kunci untuk melangkah maju menuju Indonesia yang lebih manusiawi, adil, makmur dan taat hukum. Dan apapun yang terjadi. Jenderal Sintong tetap harus dihormati dan diberikan penghargaan yang tinggi untuk dedikasinya kepada bangsa dan negara. Terutama diberikan apresiasi dan penghargaan lewat karya bukunya.

KOMANDO !!!

 

 

(MS)

 

PS : Mohon kepada pihak tertentu yang hobi menjebol kedua BLOG kami, dan ketagihan membuat kutipan-kutipan berdasarkan halusinasi dan kecenderungan merusak karya orang lain, hormati aset, properti, kehidupan pribadi dan hak-hak orang lain. Kami ingatkan untuk tidak membiasakan diri mengotori kedua blog kami dengan perbuatan-perbuatan kotor anda. Catat itu.

 

 

 

Filed under: Uncategorized

Permisi Pak Kapolri & Pak Wakapolri, Ada Oknum Polwan Yang Main Ancam Mau Menembak Orang. Plis Deh, Mau Kayak Briptu Hance Ya ?

EKSKLUSIF

Oleh : MEGA SIMARMATA, Pemimpin Redaksi 

Jakarta (KATAKAMI)  Begitu banyak pembaca yang ingin tahu kelanjutan kisah tentang oknum POLWAN yang patut dapat diduga berselingkuh sana sini. Sesungguhnya kami tidak tega juga menyampaikan semua perkembangannya sebab sangat “buruk rupa” dari sisi moralitas.  Tapi baiklah, sedikit saja kami akan sampaikan beberapa hal yang pasti akan sangat mencengangkan dan mengejutkan bagi banyak pihak. Terutama kepada para petinggi di JAJARAN KEPOLISIAN. Tahukah anda, apa saja kelakuan dari si oknum polwan ini ?

 

Inilah siluet oknum wartawan senior yang menjadi kekasih gelap oknum Polwan

Inilah siluet oknum wartawan senior yang menjadi kekasih gelap oknum Polwan

Kepada kATAKAMI.COM beberapa hari lalu, seorang Ibu muda yang berprofesi sebagai PARANORMAL mengaku bahwa ia mendapat ancaman penembakan dari oknum POLWAN ini.

“Polwan itu mengatakan kepada temannya bahwa ia akan menembak saya. Teman yang diajak bicara oleh Polwan itu langsung memberitahu saya agar hati-hati. Saya sih pasrah saja Mbak. Saya juga dihubungi oleh orang yang mendampingi Polwan ini menemui seorang Perwira Tinggi berinisial GM pada tanggal 18 Desember 2008 lalu. Oknum Perwira Tinggi itu memerintahkan kepada Polwan itu untuk datang ke sebuah restoran kecil di Jalan Dr Saharjo Jakarta Selatan sekitar Pukul 14.30 WIB. Selama 2 jam mereka bicara. Tetapi tidak berdua karena Perwira Tinggi itu tidak sudi menemui Polwan ini berduaan. Dihadapan orang, Polwan ini ditampar mukanya berkali-kali oleh Perwira Tinggi itu. Dan saya langsung dihubungi dari restoran itu oleh orang yang ikut dalam pertemuan itu. Semua diceritakan kepada saya,” kata Ibu muda ini dengan suara lirih saat menemui KATAKAMI.COM baru-baru ini untuk menceritakan rangkaian teror yang diterimanya dari oknum Polwan tadi.

“Ditampar, kenapa ditampar Bu ?” tanya KATAKAMI.

“Menurut orang yang ikut dalam pertemuan itu, Perwira Tinggi ini sudah kehabisan kesabaran. Kelakuan Polwan itu sudah sangat mempermalukan, terutama perihal kabar PERSELINGKUHAN Polwan ini dengan seorang wartawan senior yang sudah berkeluarga. Sebab, Polwan khan masih terus dapat BIAYA HIDUP dari Perwira Tinggi itu. Setelah terus DIBIAYAI HIDUPNYA, malah untuk berhubungan dengan lelaki lain. Saya malah diceritakan bagaimana bahasa yang digunakan, kau minta uang tapi untuk dipakai untuk CUKI .. ! Kepala si Polwan itu di kelepak,” jawab Ibu PARANORMAL itu.

“Waduh, benar-benar ada selingkuh rupanya, buktinya terus dibiayai. Hebat betul ya, terus si Polwan SELINGKUHAN JENDERAL itu bagaimana reaksinya ?” tanya KATAKAMI lagi.

Oknum Polwan yang mengancam akan menembak paranormal ... weleh weleh, serem amat !

Oknum Polwan yang mengancam akan menembak paranormal … weleh weleh, serem amat !

“Nangislah Mbak, bisa apa dia. Mewek. Nangis meraung-raung. Bikin malu saja. Dan itu disaksikan orang. Di tempat terbuka kok. Dulu, Polwan ini dikasih RUMAH di daerah Bekasi, orangtuanya si Polwan ikut mendiami rumah itu. Tapi si Polwan ini bikin masalah, urusan moral juga. Dia dianggap SELINGKUH dengan seorang Pria Non Pribumi. Pemberian RUMAH di Bekasi itu ditarik oleh Perwira Tinggi tadi. Belakangan dikasih 2 RUMAH sekaligus, dekat rumah si Perwira Tinggi itu di Tebet. Yang satu bertingkat 2 ukuran 500 meter persegi dan ada paviliunnya sekitar 200 meter persegi. Nah waktu kejadian ditampar bulan Desember itu, rumah pemberiann yang bertingkat malah diminta lagi oleh Perwira Tinggi itu. Kasarnya, Polwan ini diusir. Tapi anehnya masih tetap dikasih RUMAH yang kecilan” ungkap si IBU PARANORMAL.

“Lucu benar ya, rumah sudah dikasih kok diminta lagi. Kalau cuma bawahan, kok sampai dikasih 3 rumah. Ada hubungan gelap apa itu. Banyak sekali rumah yang dikasih, apa isteri dan anak-anaknya tidak tahu kalau si Perwira Tinggi itu seperti juragan rumah dan memberikan 3 rumah sekaligus kepada SELINGKUHANNYA yang malah sudah berselingkuh dengan pria beristri lainnya. Ada apa ya, kok ngotot sekali mempertahankan hubungan gelap yang jelas-jelas melanggar hukum dan norma-norma agama seperti ini ! Pakai acara menampar dan memukul kepala. Harusnya perwira tinggi ini dilaporkan ke POLRI, bisa dipidana karena melakukan kekerasan kepada perempuan. Dan bisa dicopot dari jabatannya karena melakukan hubungan asusila dan bobrok moralnya” kata KATAKAMI.

Lalu, bagaimana ceritanya sampai ada ancaman penembakan itu ?

1-vivick_tjangkung_014

Sang PARANORMAL ini mengisahkan seperti ini,

“Jadi Mbak, setelah kejadian yang sangat tragis, dia ditampari berulang kali oleh Perwira Tinggi tadi – naik pitamlah si Polwan karena ia merasa bahwa saya yang menghalangi hubungannya dengan Krng (inisial nama wartawan senior asal NTT yang kini menjadi kekasih gelap si oknum Polwan, redaksi). Darimana ceritanya saya menghalangi. Justru saya tidak mau ikut campur. Gak Cuma saya yang dapat ancaman penembakan. Saya juga diberitahu oleh sahabat si Polwan itu bahwa si Polwan ini pernah mendatangi seorang reporter muda belia dari sebuah media televisi yang seumur dengan anak perempuan si Bapak itu. Kabar kedekatan dengan reporter muda itu kan sudah kemana-mana beritanya. Polwan itu janjian bertemu di satu tempat dengan si reporter. Lalu, si reporter tadi diancam agar jangan pernah lagi mendekati si Perwira Tinggi dengan mengatakan … Saya tembak kamu kalau berani-berani mendekati Pak GM ! Gitu katanya. Sahabat si Polwan itu yang langsung menghubungi dan memberitahu saya mengenai kejadian itu” ungkap si PARANORMAL.

Luar biasa.

Si PARANORMAL melanjutkan lagi ceritanya tentang hasil pertemuan yang penuh tamparan untuk si oknum Polwan yang gemar merokok CAPRI ini.

“Pertemuan sebelum NATAL itu, dipakai si Perwira Tinggi itu untuk mengatakan bahwa si Polwan jangan sok ikut campur terhadap semua urusan dan kehidupan si Perwira Tinggi. Urusan apa saja. Si Bapak itu bilang bahwa si Polwan itu tidak tahu diri dan harus tahu diri bahwa dia itu siapa, dia bukan siapa-siapa. Jadi maksudnya jangan lancang ikut campur. ” Kata si PARANORMAL.

Akibat sakit hati, akhirnya si Oknum Polwan yang modal airmata saat diusir dari tumpangan rumah yang diberikan, yang jadi sasaran tembak justru sang PARANORMAL yang tidak bersedia memberikan bantuan apapun kepada oknum Polwan ini.

Duh, Si Monyet Ini Main Tembak Seenaknya ....

Tetapi, sahabat dekat dan sejumlah warga NTT (teman sedaerah dari oknum Polwan ini) sangat banyak yang mengenal baik dan bersimpati pada sang PARANORMAL dari daerah Solo ini. Sehingga, semua bisa diketahuinya.

Itulah sebabnya, saat si oknum Polwan itu ditampari dan diusir secara tegas, langsung dari lokasi pertemuan itu si PARANORMAL bisa dihubungi oleh sahabat si Polwan.

Oknum Polwan ini, perlu mendapat tindakan tegas dari Pimpinan POLRI. Apakah harus menunggu sampai  mati bergelimpangan sejumlahg korban akibat brutalisme penggunaan senjata api, baru nanti ada tindakan tegas ?

Oknum Polwan yang bertugas di Direktorat Narkoba jajaran Kepolisian tertentu ini, harus secepatnya dipindahkan ke bagian administrasi di Polda lain yang ada di daerah agar jangan memberikan ancaman kepada banyak orang. Betapa buruknya pengawasan dari atasan jika ada bawahan yang sisi moralitasnya sangat buruk.

Kami telah menyampaikan lewat tulisan sebelum ini bahwa sejak periode September – Oktober 2008, oknum Polwan ini menjalin perselingkuhan dengan seorang oknum wartawan senior yang bekerja di sebuah harian berbasis bisnis perekonomian.

Pria yang sudah memiliki isteri dan anak itu, kini menjadi Ketua Tim Sukses dari seorang kandidat pimpinan nasional. Isteri dari pria itu berprofesi sebagai seorang wartawati di Media Asing dan KATAKAMI mengenal sangat baik sang isteri sejak belasan tahun silam.

Oktober 2008, oknum Polwan ini mendatangi ibu PARANORMAL yang bermukim di daerah Krukut (Cinere) Jakarta Selatan. Ia meminta agar seorang Perwira Tinggi “dipaksa” untuk mau memberikan uang sebagai biaya hidup. Namun permintaan si oknum Polwan ini t idak digubris oleh sang PARANORMAL.

Hubungannya dengan seorang wartawan senior banyak dikecam oleh sejumlah wartawan karena isteri dari wartawan itu adalah sosok yang sangat lembut dan keibuan sekali. Tak pernah ada masalah dalam rumah tangga pasangan wartawan ini hingga akhirnya si oknum Polwan yang gemar mengancam orang untuk DITEMBAK ini datang mengacaukan.

Kepada KATAKAMI.COM, isteri wartawan itu pernah mengeluh bahwa perilaku suaminya menjadi sangat garang sejak “rapat” dengan oknum Polwan tadi. Bahkan dalam sebuah kesempatan, sang isteri dan anak perempuan semata wayang mereka pernah disuruh datang ke sebuah restoran oleh sang suami.

Dikira mau diajak makan bersama antar mereka saja. Ternyata di restoran itu sudah menunggu si oknum Polwan yang hobi mengenakan tank top ini. Di hadapan sang isteri dan anak semata wayang yang berusia 6 tahun itu, si oknum Polwan bertingkah laku yang tak senonoh yaitu paha sengaja dibuka agak lebar saat duduk dan ketika berbicara sengaja mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah sang wartawan. Sang isteri hanya diam saja di tempat duduknya.

Hal ihwal tentang perilaku oknum Polwan ini sudah pernah kami sampaikan secara lisan kepada seorang KAPOLDA berbintang dua.

“Tolong diperhatian dan diawasi Pak, sudah mulai aneh-aneh kelakuan Polwan itu” kata KATAKAMI kepada perwira tinggi berbintang dua tersebut saat bertemu dalam acara peringatan HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA bulan Desember 2008.

KATAKAMI.COM juga pernah menyampaikan peringatan kepada oknum Polwan itu.

“Hati-hati Mbak, jangan gampang memberikan ancaman penembakan. Apalagi kepada jurnalis. Saya pasang badan untuk keselamatan dan kepentingan jurnalis manapun yang memang mendapat ancaman. Anda keterlaluan kalau mau main ancam menembak kepada junior saya. Banyaklah anda berdoa dan bertobat. Seorang perempuan akan dihargai, terutama jika dinilai baik dari segi keimanan. Kalau anda macam-macam, apalagi berani mengancam atau mau main tembak ke jurnalis, saya akan laporkan anda ke Kapolri dan Wakapolri. Saya akan laporkan anda ke PROPAM POLRI. Jangan main-main dengan senjata api ! Catat ini !” demikian pesan dari Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata kepada oknum Polwan yang tergila-gila kepada suami-suami orang ini.

Lalu, barangkali karena terkejut atau panik mendapat teguran. Inilah jawaban si oknum Polwan, “Capek deh urusan sama elu !”

Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata tersenyum geli saat menyadari kepanikan si oknum Polwan ditodong dengan nasihat yang blak-blakan.

Nah, Yang Ini Juga Sama Sakitnya, Mau Main Tembak Aja Lu Kucing Liar ... !

Nah, Yang Ini Juga Sama Sakitnya, Mau Main Tembak Aja Lu Kucing Liar … !

Lalu menambahkan lagi nasihat berikutnya kepada oknum Polwan ini,

“Yang capek itu sebenarnya adalah Mbak …, isteri dari Mas Krng yang dekat dengan anda saat ini. Anda itu lebih muda dari saya dari segi usia. Saya berikan nasihat yang baik. Jangan suka merusak rumah tangga orang. Belum kapok ditampar ? Malu dong. Sekali lagi, jangan pernah mengancam jurnalis itu lagi, saya seniornya. Saya lindungi dia. Mau apa kamu ? Jangan ancam wartawan manapun ” sahut KATAKAMI.

*****

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, khususnya Ibu Nani Bambang Hendarso Danuri, apakah akan mendiamkan saja jika ada oknum Polwan yang sangat morat-marit moralitasnya seperti ini ?

KATAKAMI.COM beberapa kali bertemu dan berbicara dengan Ibu Nani Bambang Hendarso Danuri. Beliau figur Ibu yang sangat lembut dan penuh belas kasih. Santun sekali. Kami ingin beliau tahu bahwa ada salah seorang “anak” beliau di jajaran Kepolisian, bertingkah laku yang sangat memalukan.

Lalu Wakapolri Komjen Makbul Padmanegara dan Ibu, apakah juga akan mendiamkan ada oknum Polwan yang main ancam sana sini untuk ditembak dengan senjata apinya ? Apalagi ancaman itu datang kepada seorang jurnalis muda ?

Irwasum Polri Komjen Jusuf Manggabarani dan Kepala Divisi Propam Polri Oegroseno, apakah akan mendiamkan saja indikasi penyimpangan semacam ini ?

Dimana letak kemacetan reformasi birokrasi jika ada seorang oknum Polwan dibiarkan mengancam dengan senjata apinya kesana kemari, lalu menggoda dan merusak rumah tangga orang lain ?

Apakah sudah lupa dengan kejadian seorang anggota Provost menembak mati atasannya sendiri ?

Briptu Hance Christanto pada bulan Maret 2007 menembak mati Wakapolwiltabes Semarang. Aksi penembakan tanggal 14 Maret 2007 itu menyebabkan Lilik Purwanto tewas di tempat. Ia ditembak berulang-ulang dari arah depan dan belakang oleh tersangka Briptu Hance Christanto. Sedikitnya, berdasarkan pemeriksaan di Labfor ada 14 butir peluru masuk ke tubuh korban.

Kalau Hance Christanto menembaki secara brutal atasannya sendiri, bukan tidak mungkin satu saat nanti oknum Polwan ini menembaki perempuan mana saja yang dianggapnya sebagai saingan atau ancaman yang kriterianya hanya berdasarkan halusinasinya.

Oknum Polwan yang tak berprestasi ini, tak layak untuk bertugas di sebuah Direktorat bergengsi yang terletak di kota besar.

Presiden dan Wakil Presiden perlu mengamati gejala sosial yang menjangkiti polisi. Mundur atau morat-matirnya moralitas anggota polisi, akan menjadi tolak ukur berhasil atas tidaknya reformasi birokrasi POLRI.

Reformasi Birokrasi POLRI bukanlah reformasi jika masih ada oknum polisi yang seenak jidatnya mengancam orang tak benar-benar tak bersalah dengan kata-kata, “SAYA TEMBAK KAMU NANTI !”.

Waduh waduh waduh. Oknum polwan ini lebih cocok jadi bintang film saja di film action yang dipadukan dengan unsur horor dan mistik.

Ih, serem deh ! Dar der dor, mending kalau yang mati di tembak bandar narkoba atau teroris. Ini bisa-bisa yang jadi korban justru warga sipil tak bersenjata, yang ketiban sial karena si oknum Polwan sedang “kumat” sakit moralitasnya.

Tolong. Plis deh … sekali-sekali, coba arahkan moncong senjata api itu ke jidat sendiri dan tarik pelatuknya. Ketika peluru tajam itu menembus masuk, enak atau tidak rasanya ? Mati atau hidup kalau menembak diri sendiri ? Lakukan dulu kepada diri sendiri sehingga jangan seenaknya menyakiti atau mengancam orang lain. Apalagi mengancam wartawan. Sekali lagi, plis deh … !

Oknum polwan dan oknum perwira tinggi itu, sudah sepantasnya dicopot dan DIBERHENTIKAN SECARA TIDAK HORMAT karena patut dapat diduga sangat kotor dan buruk moralitasnya, ini bisa menjadi virus yang sangat berbahaya dari rumah tangga atau keluarga dari KELUARGA BESAR POLRI.

 

 

(MS)

Filed under: Uncategorized

Ternyata Oknum Pejabat Intelijen Yang Selingkuh Itu Kaya Buaanggetttt ! (Bagian 2)

11-wahyusanti2

Jakarta (KATAKAMI)  Mari kita luangkan waktu sejenak mencermati sebuah kisah asmara yang patut dapat diduga dijalankan oleh pejabat intelijen dan seorang wartawati. Tanpa bermaksud berburuk sangka dan dengan tetap menghormati wilayah pribadi atau PRIVACY orang lain, kami soroti kisah asmara ini dari sudut pandang yang berbeda.

Ada seorang pejabat intelijen yang jatuh hati pada seorang wartawati senior.

Dari pengakuan si wartawati itu sendiri, kami mengetahui bahwa beberapa kali mereka bertemu di sebuah hotel di Kalimantan Timur. Sang Arjuna sudah lebih dulu berangkat, setelah itu atau selang beberapa hari barulah Sang “Dewi Cinta” menyusul ke lokasi pertemuan nun jauh disana.

“Jadi waktu itu, kamar gue sudah disediain sama si Bapak disebelah kamarnya. Tapi pernah pas gue datang, si Bapak sudah nunggu di kamar yang buat gue,” kata si perempuan.

“Terus, lu ciuman atau ngapain didalam berduaan ?” tanya KATAKAMI.

“Iya tuh, si Bapak udah mau main nyosor ke bibir gue aja. Tiba-tiba mukanya udah didekati ke muka gue aja. Gue bilang, Bapak keluar dulu ah … nanti gimana-gimana lagi,” jawab si “Dewi Cinta”.

“Lu dikasih uang ?” tanya KATAKAMI.

“Gak banyak sih, berapa juta aja. Waktu itu si Bapak minta tolong juga sih untuk masukin berita soal minyak. Duh, setengah mati masukinnya ke koran gue. Tapi akhirnya masuk juga sih, nyempil doang. Itu juga udah lumayan,” kata si “Dewi Cinta” menjelaskan hal ihwal pertemuannya dengan sang arjuna di sebuah tempat pertemuan rahasia dengan pejabat intelijen tersebut.

*****

Perkenalan mereka, menurut sang “Dewi Cinta”, sudah terjalin lama sekali yaitu saat Sang Arjuna masih aktif dalam kedinasan di Jajaran Kepolisian.

Yang membuat KATAKAMI curiga agar kedekatan dua insan yang di mabuk asmara ini adalah si perempuan tidak pernah dikenalkan dan memang faktanya tidak kenal samasekali dengan isteri dari si pejabat.

Padahal biasanya, semua narasumber yang dikenalnya di INSTANSI mana saja, rata-rata sang isteri akan dikenal dengan baik oleh wartawati ini agar bisa SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat.

Kedekatan sang wartawati yang sudah sangat lama hidup menjanda ini dengan pejabat intelijen tersebut, lama kelamaan menimbulkan kecurigaan lainnya bahwa patut dapat diduga si wartawati ini dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi si pejabat intelijen.

Ini terbongkar pada bulan Desember 2008 lalu.

Patut dapat diduga, si wartawati ini diumpan untuk mendekati pejabat tertentu di lembaga lain agar memudahkan si pejabat intelijen mendapatkan konfirmasi atau bocoran tentang kasus-kasus tertentu. Atau, patut dapat diduga si wartawati ini dipakai untuk menjadi “corong” menyampaikan informasi yang sudah mengalami distorsi.

Patut dapat diduga beberapa kasus besar di bidang penegakan hukum sengaja dibocorkan oleh pejabat intelijen tadi kepada sang pujaan hati agar segera dikembangkan untuk menjadi ”BERITA BESAR”.

Sasarannya adalah agar pemberitaan itu menghantam secara hebat INSTANSI atau FIGUR tertentu di dalam INSTANSI lain.

Dan patut dapat diduga, instansi yang hendak terus menerus dipermalukan dan dijatuhkan oleh oknum pejabat intelijen ini adalah POLRI dan KEJAKSAAN AGUNG.

Patut dapat diduga, ada semacam dendam atau sakit hati karena penanganan kasus pembunuhan seorang aktivis di bidang HAM beberapa tahun lalu terus berlanjut dan sulit dihentikan.

Mengapa ?

Sebab patut dapat diduga, oknum pejabat intelijen yang satu ini memang terlibat yaitu dialah yang mengajukan opsi santet untuk membunuh aktivis HAM tersebut. Namun, pada akhirnya aktivis HAM yang bersahaja itu dibunuh dengan cara diracun.

Sialnya, patut dapat diduga oknum pejabat intelijen ini sengaja mau memanfaatkan situs berita KATAKAMI untuk melakukan pembunuhan karakter atau mengekor pada apapun berita yang ditulis oleh pujaan hatinya.

Kami tak mau dikendalikan oleh pihak luar semacam ini. Apalagi, patut dapat diduga misi yang diembak sangat kotor, liar, berbahaya, tak bermoral dan sangat tidak profesional.

*****

Patut dapat diduga, hal yang paling membakar hati si oknum pejabat intelijen yang sangat akrab dengan dunia ilmu hitam (sehingga bisa-bisanya mengajukan opsi santet untuk membunuh aktivis HAM tahun 2004 lalu itu) adalah soal prestasi gemilang dan kerja keras POLRI dalam penanganan masalah terorisme.

Selalu saja ada cara dan upaya yang bersinambungan dilakukan agar jangan POLRI mendapatkan aplaus atau respek dari semua kalangan atas semua prestasi dan kerja keras di bidang penanganan masalah terorisme.

Pada suatu kesempatan, KATAKAMI sedang makan siang bersama dengan wartawati yang menjadi pujaan hati si oknum pejabat intelijen ini. Tiba-tiba hp si wartawati itu berdering.

“Aku lagi makan Pak, dengan Mega. Di Restoran Garuda. Bapak udah makan belum ? Oh iya … iya … dah Bapak,” kata si wartawati menutup pembicaraan.

“Pak Wahyozz (nama samaran, red) telpon tuh. Kok bisa bersamaan ya, telpon pas gue lagi makan siang dengan elu,” kata si wartawati.

*****

Yang ingin kami sampaikan disini adalah hendaklah aparatur penyelenggara negara haruslah tertib hukum, tertib moral dan tertib segalanya.

Jika memang patut dapat diduga ada oknum pejabat sudah beristeri tetapi melakukan atau menjalin hubungan yang sangat jauh dengan WANITA IDAMAN LAIN alias WIL, pantaskah jika itu didiamkan saja oleh atasannya ?

Jika memang patut dapat diduga ada oknum pejabat yang terlibat dalam sebuah kasus pelanggaran hukum yang besar dan sangat mempermalukan Indonesia di mata dunia internasional, pantaskah jika si oknum pejabat itu dibiarkan terus menjabat ?

Oknum pejabat ini sudah bertahta di singgasana jabatannya dalam dua dekade pemerintahan.

 Kok bisa ya ?

Oknum pejabat inilah yang patut dapat diduga melakukan aksi pengrusakan terhadap situs berita WWW.KATAKAMI.COM saat memuat tulisan SUCIWATI berjudul MUNIR CAHAYA YANG PERNAH PADAM tgl 13-15 Januari 2009.

Oknum pejabat inilah yang patut dapat diduga mengirimkan anak buahnya untuk melakukan aksi teror fisik kepada kami, terutama upaya pembunuhan lewat cara meracuni pada makanan tertentu.

Oknum pejabat inilah yang patut dapat diduga mengirimkan anak buahnya untuk mengikuti Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata setiap hari, sampai ke rumah ibadah (gereja) untuk menteror.

Terutama karena patut dapat diduga oknum pejabat ini sangat malu saat skandal percintaannya terbongkar oleh KATAKAMI.COM. Kami toh tidak punya niatan khusus untuk mempermalukan atau menjatuhkan pihak lain sebab yang menceritakan adalah si perempuan sendiri.

Perempuan yang karena sudah sangat lama dikenal oleh oknum pejabat intelijen ini sehingga timbullah benih-benih cinta. Berhubung oknum pejabat intelijen ini pernah bertugas di DI Yogyakarta, maka kami teringat sebuah pepatah JAWA yang bunyinya adalah “WITING TRISNO JALARAN SUKO KULINO”. Artinya, cinta itu tumbuh karena terbiasa dan sudah lama berteman.

Wah wah wah.

Sebenarnya yang harus diingat adalah skandal percintaan itu sendiri, apakah dilakukan oleh seorang pria beristeri dan notabene pejabat pula.

Dan kalau memang mau cuek bebek berselingkuh, ya jangan main teror dong kalau seandaikan skandal percintaan itu bocor ke telinga wartawan lain. Kami tak bermaksud untuk mempermalukan atau menjatuhkan pihak manapun. Itu sebabnya, nama dari oknum pejabat ini dan pujaan hatinya yang bekerja di sebuah harian terkemuka dengan seragam BIRU ini, tidak dicantumkan disini.

Rahasia toh ?

Ssstt, jangan paksa kami untuk membocorkan identitas oknum pejabat ini. Sebab, kami takut situs ini dirusak lagi dan … takut diracun. Apalagi kalau pakai ARSENIK !

 

(MS)

 

Filed under: Uncategorized

DOKUMENTASI TULISAN KATAKAMI 2008-2009

Desember 2016
S S R K J S M
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

Kategori

Kategori