KATAKAMI REDAKSI

Ikon

JURNALISME YANG LAYAK DIPERCAYA

Bongkar Pasang Nama Kemas – Salim Ala Hendarman Supandji, Piye Toh Sampeyan Iki Mas ? (Bagian I)

Jaksa Agung Hendarman Supandji pada acara pelantikan Jampidsus baru

Jaksa Agung Hendarman Supandji pada acara pelantikan Jampidsus baru

JAKARTA 26/2/2009 (KATAKAMI)  Kalau kita lihat kalender, maka dalam hitungan 3 hari ke depan persis satu tahun peristiwa penangkapan Artalyta Suryani (Ayin, red) dan Urip Tri Gunawan.

Pasangan kasus korupsi senilai USD 660 ribu ini ditangkap tanggal 1 Maret 2008 di kediaman pribadi Ayin di kawasan Simpruk Jakarta Selatan.

Dan kalau kita mencermati perkembangan yang terakhir terkait kasus suap Ayin – Urip, permohonan kasasi Ayin ditolak oleh Majelis Hakim di tingkat Mahkamah Agung.

Artinya, vonis Ayin di tingkat pertama yaitu di Pengadilan Negeri Tipikor sebanyak 5 tahun pidana kurungan itu menjadi diperkuat dua kali lipat yaitu di tingkat banding (Pengadilan Tinggi) dan baru-baru ini lebih diperkuat lagi di Mahkamah Agung.

*****

Artalyta Suryani

Artalyta Suryani

Dengan adanya kekuatan hukum tetap (INKRAH) maka Ayin resmi menjadi terpidana dan wajib menempati salah satu ruangan di Lembaga Permasyarakatan (LP).

Apakah ia akan kembali ke Rutan Pondok Bambu Jakarta Timur — dimana dulu  saat awal penangkapannya, Ayin sempat beberapa lama mendekam di Rutan Pondok Bambu ini — atau ia menempatio Rutan lainnya ?

Dan melihat perkembangan yang terjadi pada diri Ayin, maka kecil kemungkinan upaya hukum Urip yang mengajukan kasasi akan diterima.

Ada kelanjutan dari vonis Majelis Hakim di tingkat kasasi terhadap kasus Ayin yaitu vonis 5 tahun penjara itu kini memiliki kekuatan hukum tetap atau INKRAH, sehingga secepatnya setelah salinan putusan kasasi keluar maka Ayin harus berkemas pindah dari hotel prodeo yang dihuninya selama setahun terakhir di Rutan Bareskrim Polri.

Sehingga, besar kemungkinan vonis 20 tahun penjara untuk Urip akan diperkuat juga oleh Majelis Hakim di tingkat Mahkamah Agung. Tapi khusus untuk Urip, semua harus menunggu kepastian hukum yang sebenarnya yaitu sampai Majelis Hakim memang benar-benar sudah mengambil suatu keputusan yang tetap.

*****

Kami sependapat dengan Indonesian Corruption Watch (ICW), Komisi Kejaksaan (Komjak) dan bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang gencar menyoroti sebuah keputusan dari Jaksa Agung Hendarman Supandji baru-baru ini yaitu mengangkat Kemas Yahya Rahman dan M Salim selaku Koordinator dan Wakil Koordinator Unit I Tim Khusus Supervisi dan Bimtek Penuntutan Perkara Pidana Korupsi, Perikanan, dan Ekonomi.

Keduanya lantas digantikan Muzammi dan Timbul yang awalnya menjabat sebagai Koordinator dan Wakil Koordinator Unit II Tim Khusus Supervisi dan Bimtek Penuntutan Perkara Pidana Korupsi, Perikanan, dan Ekonomi.

Walaupun sempat mengecam ICW dan menuding bahwa ICW “over acting” dalam menyoroti pengangkatan duet Kemas – Salim ini, toh pada akhirnya Kejaksaan Agung menganulir pengangkatan Kemas – Salim.

Sebenarnya sangat sederhana komentar yang bisa disampaikan saat Hendarman memutuskan untuk mengangkat Kemas – Salim pada posisi tadi.

“Mbok ya, Hendarman punya malu dan tahu diri sedikitlah !”

Mengapa harus punya malu dan tahu diri ?

Sekarang kalau pertanyaannya dibalik, siapa di negara ini yang tidak mengetahui kasus suap Ayin – Urip yang sangat menggemparkan itu ?

Lalu kalau pertanyaannya ditambahkan lagi, siapa yang tidak tahu di negara ini bahwa dari kasus suap itu hanya Urip yang menjalani proses hukum dan akhirnya menanggung hukuman yang sangat memukul yaitu pidana kurungan 20 tahun penjara ?

Dan kalau dipersempit lagi, siapa yang tidak tahu bahwa dalam materi persidangan Ayin – Urip di Pengadilan Negeri Tipikor sepanjang tahun 2008 lalu, ada banyak sekali kejanggalan yang menjadi bahan tertawaan banyak orang ?

Dari mulai urusan jual beli permata, pinjam-meminjam untuk membangun bengkel, skandal telepon dari balik jeruji besi dan rangkaian rekaman penyadapan yang berhasil dirangkum KPK sebagai petunjuk dalam persidangan.

Apakah tidak ada rasa malu dari Jaksa Agung Hendarman Supandji terhadap semua fakta hukum yang mengemuka dari kasus Ayin – Urip ?

Walaupun kasus suap itu melibatkan Urip seorang diri, tetapi sebagai ejekan dari masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap kredibilitas Kejaksaan Agung maka yang dijadikan ring tone handphone (nada dering, red) adalah rekaman pembicaraan Kemas Yahya Rahman dan Ayin.

*****

Barangkali Hendarman Supandji lupa terhadap skandal pembicaraan yang menghebohkan antara seorang Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) dan makelar kasus alias markus, baiklah akan dikutip ini isi dari pembicaraan Kemas – Ayin :

Inilah pembicaraan Ayin-Kemas pada tanggal 28 Februari 2008 :

Ayin: Halo…

Kemas: Halo…

Ayin: Ya, siap.

Kemas: Sudah dengar pernyataan saya he he he…

Ayin: Good, very good.

Kemas: Jadi, tugas saya sudah selesai.

Ayin: Siap. Tinggal ini.

Kemas: Ya, udah jelas, gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.

Ayin: Bagus itu.

Kemas: Tapi, saya dicaci maki.

Ayin : Ya…

Kemas : Baca Rakyat Merdeka, nggak?

Ayin : Ah, Rakyat Merdeka mah nggak dibaca, nggak usah dibaca.

Kemas : Katanya, saya mau dicopot. Ya, jadi begitu ya?

Ayin : Sama ini, Bang. Saya mau informasiin, masalah si joker.

Kemas : Ya, itu nanti-nanti.

Ayin : Nggak, itu kan saya ditugasin, Bang.

Kemas: Nanti-nanti. Ada cara lain nanti. Tenang aja. Gampang.

Ayin : Hari Selasa ya nanti saya ke…

Kemas : Gak usah, nanti-nanti. Gampang. Saya juga ada pesan dari sana, sudah…

Ayin : Iya sudah. Kan begini, Bang…

Kemas : Jadi begini, kan sudah diumumkan, ada alasan lain nanti. Sudah ada dalam ini, dalam perencanaan.

*****

Kembali kepada masalah bongkar pasang nama Kemas – Salim alas Hendarman ini, satu hal yang perlu disadari oleh Jaksa Agung adalah memori buruk dari masyarakat Indonesia terhadap bobroknya moralitas jaksa belumlah sirna.

Memori buruk itu masih ada dan kuat dalam ingatan setiap orang.

Memang patut dapat diduga, ada sedikit pengecualian dari Hendarman Supandji terhadap Kemas Yahya Rahman, dibandingkan Untung Udji Santoso misalnya — yang sama-sama tersodok namanya dalam kasus suap Ayin – Urip –.

Kalau mau jujur, sebenarnya yang paling sial dari semuanya ini adalah Untung Udji Santoso.

Tidak ada kaitan tugas dengan Urip di Gedung Bundar karena Udji (panggilan Untung Udji Santoso, red) adalah Jaksa Agung Muda Perdata & TUN, Udji terpaksa “disingkirkan” hanya karena ia menerima telepon “nyasar” dari Ayin.

Dibanding Kemas, Udji tidak punya hierarki penugasan terhadap Urip.

Di Gedung Bundar, yang menjadi atasan langsung dari Urip adalah M. Salim selaku Direktur Penyidikan (Dirdik) pada Jampidsus dan setingkat diatasnya lagi adalah Jampidsus Kemas Yahya Rahman.

Kemas dan Salim, sama-sama lolos dari lubang jarum penegakan hukum yang melilit Urip sejak detik pertama penangkapannya tanggal 1 Maret 2008 itu.

Kemas dan Salim, sama-sama diselamatkan oleh Hendarman menjadi Staf Ahli Jaksa Agung.

Kemas dan Salim, sama-sama diangkat pula sekarang oleh Hendarman.

Padahal kalau saja Urip mau “buka mulut” tentang apa sebenarnya yang terjadi di balik skandal suap USD 660 ribu itu, bukan tak mungkin nama Kemas dan Salim akan ikut duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa.

Didalam dunai kemiliteran, setiap prajurit yang bersalah di lapangan akan dimintai juga pertanggung-jawaban dari atasan sampai dua tingkat di atasnya yaitu yang dikenal dengan istilah two step up.

Pertanggung-jawaban harus sampai dua tingkat di atas prajurit yang bersalah.

Tapi itu di militer, bukan di Kejaksaan Agung yang gaya-gaya penugasan serta sistem kepangkatannya meniru militer juga.

*****

Harusnya Hendarman peka terhadap semua situasi yang terjadi di Indonesia pasca skandal suap Ayin – Urip.

Berulang kali Hendarman menceramahi seluruh jaksa di negeri ini agar memperbaiki moralitas dan kinerja supaya kredibilitas Kejaksaan pulih dari kubangan yang kotor pasca skandal suap Ayin – Urip.

Tampaknya Hendarman yang kini harus diingatkan untuk memperbaiki gaya kepemimpinannya yang kurang peka terhadap tuntutan masyarakat.

Mantan Jampidsus ini jangan cuma tunduk kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sudah turun tangan. Kalau misalnya SBY tidak turun tangan, maka patut dapat diduga Hendarman akan masa bodo terhadap kecaman banyak orang.

Janganlah memaksakan kehendak dan pengertian diri sendiri yang sangat egoistik.

Persis menjelang peringatan 1 tahun skandal suap Ayin – Urip, justru Hendarman yang mencoreng muka Kejaksaan Agung dengan keputusannya yang tidak tepat dan kurang bijak.

Walau dipakai gaya bengkel motor yaitu bongkar pasang semaunya terhadap penetapan tugas dari bawahan –dalam kasus Kemas & Salim ini — yang harus diingat oleh Hendarman Supandji adalah Indonesia ini memerlukan bukti konkrit bahwa Kejaksaan Agung memang pantas untuk dipercaya dan diandalkan kembali.

Sekali lagi, sebaiknya Hendarman punya malu dan tahu diri sedikitlah.

Jangan membuka luka lama dari rakyat Indonesia yang pernah sangat terkejut dan murka sekali terhadap buruknya kinerja Kejaksaan Agung akibat skandal suap Ayin – Urip.

Masa jabatan Hendarman sebagai Jaksa Agung, hanya tinggal hitungan bulan saja.

Bekerjalah dengan baik agar bangsa, negara dan rakyat Indonesia mengenang seorang Hendarman secara baik. Bukan dengan kenangan yang serba buruk dan menusuk hati.

“Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama harum !”

Artinya, jabatan yang menjadi amanah dari negara harus dijalankan dengan sebaik-baiknya agar kelak di kemudian hari semuanya itu akan membuahkan hasil yang membanggakan anak cucu.

Buatlah keputusan yang reformis dan tidak membuat hati rakyat Indonesia menjadi “meringis” tanda kesal dan marah pada Kejaksaan. 

(selesai)

 

Filed under: Uncategorized, , , ,

Maret 2009
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip

Kategori

Kategori

%d blogger menyukai ini: