KATAKAMI REDAKSI

Ikon

JURNALISME YANG LAYAK DIPERCAYA

Kemesraan SBY-JK Jangan Dibiarkan Cepat Berlalu

Presiden SBY & Wapres JK

Presiden SBY & Wapres JK

DIMUAT PERTAMA KALI DI KATAKAMI.COM Pertengahan Februari 2009

 

JAKARTA (KATAKAMI)   Ada pepatah lama, “Asam di gunung, ikan di laut, dalam kuali bertemu juga”. Siapa yang menyangka, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memilih M. Jusuf Kalla (JK) sebagai jodoh politiknya untuk maju ke Pemilu Pilpres 2004.

Sehingga bisalah dibayangkan, Megawati Soekarnoputri ibarat jatuh lalu tertimpa tangga.

Ditinggal oleh kedua orang Menteri Koordinator (Menko) dalam Kabinet Gotong Royong karena keduanya memutuskan untuk berpasangan dalam ajang Pilpres, Megawati ternyata harus berhadapan dengan bekas anak buah sendiri dan kalah pula.

Lalu, dibalik kemenangan itu, apakah bisa Pihak SBY mengklaim bahwa kemenangan di putaran kedua Pilpres 2004 itu semata-mata karena daya pesona politik SBY sangat amat tinggi secara luar biasa sehingga kesan yang bisa timbul adalah JK samasekali tidak memberikan andil apapun dalam perolehan suara ?

Waduh, terlalu sombong rasanya kalau misalnya ada kader dari Partai Demokrat yang merendahkan nilai jual seorang Jusuf Kalla.

Kami tidak ingin larut dalam “cekcok politik” yang terjadi beberapa hari terakhir ini dimana ada sentilan berbau penghinaan dari kader Partai Demokrat terhadap JK dan Partai Golkar.

**********

Kami ingin melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

Kemesraan pasangan SBY – JK ini sudah terbangun dan terbukti bertahan sekitar 4 tahun 4 bulan. Kalau untuk ukuran anak-anak maka usia 4 tahun 4 bulan itu adalah kelompok BALITA atau bawah lima tahun.

Tapi untuk ukuran pasangan dwi tunggal semacam SBY – JK yang memimpin perjalanan bangsa Indonesia selama 4 tahun 4 bulan, maka perjalanan itu bukan lagi perjalanan yang “biasa”. Tetapi, yang sudah dilalui Kabinet Indonesia Bersatu ini adalah erjalanan yang luar biasa.

Kalau didalam film layar lebar ada judul “Bukan Perempuan Biasa”, maka Jusuf Kalla adalah “Bukan Wapres Biasa”.

Maksudnya, tanpa harus diketahui oleh banyak orang (termasuk oleh Pengurus dan Kader Partai Golkar sendiri),  jika sedang diterpa badai yang kuat penuh dilema maka patut dapat diduga ada banyak hal yang pasti dipendam dan ditelan sendiri oleh JK untuk menyelamatkan situasi.

JK, kerap kali harus memilih yaitu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum dari Partai Golkar yang notabene adalah parpol pemenang Pemilu Legislatif 2004, atau sebagai Wakil Presiden.

Sebab, semua tindak tanduk dan ucapannya sebagai seorang Wakil Presiden harus disesuaikan, diselaraskan dan disinergikan dengan Kepala Negara.

Dan JK, adalah figur yang tahu diri.

Artinya, ia senantiasa bersedia mendukung dan mengamankan kepentingan Pemerintah bila memang memerlukan “suara” di parlemen.

Bagaimana mungkin Partai Demokrat bisa mengamankan kepentingan Pemerintah misalnya, karena partai ini bukanlah partai yang besar atau berpengaruh kuat di DPR.

Ini fakta, yang tak boleh dipinggirkan samasekali !

********

Kalau kita semua masih memiliki ingatan yang kuat alias tidak mengidap sakit amnesia, maka ada baiknya dihitung berapa kali Partai Golkar (atas perintah dari Ketua Umum) untuk memberikan suara dalam mendukung langkah, keputusan atau kebijakan apapun yang menguntungkan Pemerintah, dalam hal ini Kabinet Indonesia Bersatu.

Aburizal Bakrie, yang duduk sebagai Menko Kesra, termasuk yang kabarnya pernah diberdayakan untuk melobi “SENAYAN” di salah satu kesempatan isu INTERPELASI dicuatkan ke permukaan.

Jangan melihat Aburizal Bakrie sebagai seorang Pengusaha Nasional yang sukses. Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, termasuk barisan “Si Kuning yang kini mendapatkan nomor urut 23″ dalam Pemilu Legislatif.

Surya Paloh, sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar,  acapkali harus “turun tangan” meredam situasi jika ada isu-isu keras menyangkut dwi tunggal SBY – JK dan memerlukan tanggapan yang “sejuk” dari Partai Golkar.

Surya Paloh jugalah yang secara konsisten menenangkan dan menyabarkan banyak pihak yang mendesak agar Partai Golkar segera mengumumkan CAPRES pada Pilpres 2009.

Sebagai Ketua Dewan Pembina Golkar, ada “pengertian” terhadap figur JK yang tidak mungkin gegabah atau salah langkah dalam mengumumkan siapa Capres & Cawapres dari Partai Golkar.

*********

Yang ingin dikatakan disini adalah perjalanan waktu selama 4 tahun 4 bulan mendampingi SBY memimpin bangsa ini, bukan hal yang semanis madu atau seindah lembayung sutra bagi JK.

Sedapat mungkin, apa yang bisa dibantu dan dilakukan untuk mendukung kelancaran roda pemerintahan ini, maka itulah yang akan dilakukan serta diucapkan oleh JK.

Sesekali, memang ada yang berburuk sangka pada JK bahwa seolah-olah JK ambisius dan ingin menggunting dalam lipatan.

Ah, siapa bilang ?

JK bukan tipikal pengkhianat. Ia loyal. Darah Bugis yang mengalir dalam dirinya menjadikan JK sebagai manusia yang setia bagi pasangan hidupnya. Berpasangan dalam pemerintahan, beda-beda tipis dengan rumah tangga. Menyatukan dua pribadi dari dua latar belakan yang berbeda, bukanlah hal yang mudah.

Dan pemerintahan yang tetap kokoh selama 4 tahun 4 bulan ini, bisa menjadi sekokoh ini adalah karena faktor JK !

Misalnya, dalam urusan pemilihan pejabat tertentu di berbagai lembaga atau instansi strategis, sebagai Ketua Umum Parpol yang tertinggi dan teratas perolehan suaranya pada Pemilu Legislatif 2004, JK bisa dan selalu mau untuk tunduk pada keputusan Sang Presiden.

Atau dalam pengambilan keputusan serta merumuskan kebijakan penting yang sangat krusial sifatnya, beberapa kali misalnya JK “tidak tahu”, namun pada akhirnya JK bisa memaklumi atau memaafkan.

Walau dalam kontrak politiknya di awal perjodohan dengan SBY dulu saat akan maju dalam Pilpres 2004, ada bidang atau hal khusus tertentu yang diarahkan untuk menjadi kewenangan seorang Wakil Presiden.

**********

Menteri-Menteri dan Para Pejabat Tinggi Negara dalam Kabinet Indonesia Bersatu, harusnya sadar diri, tahu diri dan bisa menempatkan diri. Jangan hanya ingin menunjukkan dedikasi dan loyalitas kepada SBY semata.

Lalu kepada JK, mau anggap enteng dan cukup dipandang sebelah mata saja. Bahkan kalau perlu dilawan ?

SBY – JK dipilih oleh mayoritas rakyat Indonesia untuk menjadi Pemerintahan yang baru periode 2004-2009, bukan dipilih sendiri-sendiri.

Rakyat memberikan suara mereka pada pasangan SBY – JK, ya karena yang ditawarkan adalah perkawinan nama, figur dan kemampuan dari dua anam manusia bernama SBY dan JK.

SBY – JK, isinya memang dua nama tetapi didalam mengelola Pemerintahan, yang tadinya dua justru harus menjadi satu demi menjaga soliditas kabinet Indonesia Bersatu.

Menteri-Menteri dan Para Pejabat Tinggi Negara dalam Kabinet Indonesia Bersatu, juga harus “punya malu” jika misalnya kepada Presiden SBY tidak ingin membantah tetapi kepada Wapres JK berani “lancang” melawan atau menentang.

Hormati atasan karena dalam hierarki pemerintahan karena yang disebut atasan dari semua Menteri & Pejabat Tinggi Negara dalam lingkungan Kabinet Indonesia Bersatu adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Kalau kami jadi Jusuf Kalla, tidak dipilih sebagai Cawapres SBY, justru sebuah angin segar. Sebab, dengan demikian maka aspirasi dari kader partai Golkar yang ingin Partai Golkar mengajukan Capres dari internal mereka akan kesampaikan.

Siapa bilang JK tidak pantas atau tidak layak jadi Capres ?

Tidak ada peraturan dalam penyelenggaraan Pemilu Pilpres bahwa Si Capres atau Cawapres atau berlatar-belakang Jawa atau Non Jawa.

Jadi, yang harus disadari oleh semua pihak adalah Ketua Umum Partai Politik berhak dicalonkan sebagai Capres jika memang perolehan suara mereka memungkinkan untuk mengajukan calon sendiri dan tidak perlu berkoalisi dengan partai lain.

Dan kalau ada merendahkan Partai Golkar bahwa sepertinya pada Pemilu Legislatif yang akan berlangsung tanggal 9 April 2009 mendatang perolehan suara Partai Golkar tidak akan melebihi angka 3 persen, wah … alangkah menghinanya itu.

Hati-hati, sebagian pihak justru memprediksi bahwa bila JK “dilepas” oleh SBY dalam kaitan Pilpres 2009 mendatang maka yang terjadi justru “Pucuk Di Cinta, Ulam Tiba”.

Partai berlambangkan pohon beringin ini akan bisa mengusung Capres dari lingkungan mereka sendiri.

Prabowo Subianto saja, yang tahun 2004 sempat mengikuti Konvensi Partai Golkar, kini diusung sebagai Capres oleh Partai Gerindra. Sebuah partai baru yang ternyata kemunculannya bisa mencuri hati dari sebagian rakyat Indonesia.

Rakyat tentu melihat dan menilai, apakah seorang Jusuf Kalla telah melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya sepanjang ia menjadi Wakil Presiden. Jadi, penilaian itu berpulang serta tergantung dari hati dan pikiran dari rakyat Indonesia.

**********

JK, adalah pribadi yang sangat pemaaf, penuh rasa humor, tenang, kalem dan selalu berpikiran maju ke depan.

JK, sangat jarang marah.

Tetapi kalau dalam sebuah kesempatan keluar pernyataan dari JK yang sangat “nyelekit” untuk merespon pernyataan yang menyimpang dari Pihak lain maka artinya sudah terlukai martabat, harga diri dan kehormatan dirinya. Serta Partai Politik yang dipimpinnya.

Kami tak akan pernah lupa ada sebuah peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. Saat menggelar jumpa pers di Istana Wakil Presiden, seorang wartawan bertanya meminta tanggapan dari Wapres JK terkait isi dari survei itu. 

Berdasarkan survei yang dirilis, angka pemilih terhadap figur SBY mendapat 60 persen, sedangkan yang memilih JK hanya 1 persen.

Tahukah bagaimana respon dari JK ?

Dengan tenang JK menjawab seperti ini, “Berapa tadi kau bilang angka survei itu ? Yang memilih Pak SBY 60 persen, dan yang memilih saya hanya 1 persen. Nah, coba kau jumlahkan dulu itu ! Berapa 60 tambah 1 ? 61 persen kan … selesai, bisa menang lagi SBY – JK !” jawab JK.

Wartawan yang hadir langsung tertawa terpingkal-pingkal. JK, jarang sekali tersinggung. Walau dicaci, dimaki, disudutkan dan direndahkan oleh Pihak-Pihak tertentu, JK tetap sabar.

Paling-paling ia hanya berkomentar sedikit kepada lingkungan keluarga.

********

Menutup tulisan ini, ada baiknya diingatkan kepada para pendukung SBY – JK bahwa kemesraan dari pasangan ini dalam memimpin Indonesia, janganlah dulu dibuat agar cepat “berlalu” sebelum waktunya alias terpecah belah.

SBY – JK harus menuntaskan amanat rakyat yang diberikan kepada mereka berdua dalam memimpin Pemerintahan sampai garis finish.

Dukung mereka, agar roda pemerintahan ini berjalan baik dan stabil.

Roda pemerintahan harus terus bergulir dan berputar. Dan ini menyangkut nasib dari rakyat Indonesia dalam menapaki jejak hidup ke masa yang akan datang. Roda pemerintahan itu bukan ring tinju yang bisa dibuat sebagai ajang “gontok-gontokan terbuka” yang ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dalam berpolitik, berpolitiklah secara santun dan elegan.

Jangan berpolitik dengan gaya preman atau petinju kelas berat yang selalu PD untuk memenangkan setiap pertempuran.

(MS)

Ketum Partai Golkar Jusuf Kalla

Ketum Partai Golkar Jusuf Kalla

Filed under: Uncategorized, , ,

Maret 2009
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip

Kategori

Kategori

%d blogger menyukai ini: