KATAKAMI REDAKSI

Ikon

JURNALISME YANG LAYAK DIPERCAYA

Tebak-Tebak Buah Manggis Tentang Capres Dan Cawapres PKS

JAKARTA (KATAKAMI)  Kadang-kadang setiap memperhatikan gerak laju dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ada keprihatinan yang sangat mendalam. Sebab partai yang satu ini kerap kali diguncang isu yang tak sedap.

Bukan karena perilaku pada pengurus atau kadernya yang tak sedap tadi tetapi secara sporadis patut dapat diduga ada gerakan pembunuhan karakter terhadap parpol yang dipimpin oleh Tifatul Sembiring ini. 

partai-tifatul2

Baru-baru inipun ada isu baru sebenarnya. Tapi kami tak ingin cepat mengomentari. Seperti istilah dalam tayangan-tayangan infotaiment, gosip itu digosok makin asyik. Jadi kami mendiamkan saja seraya mengikuti perkembangan tentang isu yang berbau asusila tadi.

Setelah membaca dari media massa pernyataan dari Presiden PKS Tifatul Sembiring bahwa isu baru-baru ini di sebuah daerah itu tak betul, maka kami teringat pada sebuah pepatah lama, “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”.

Sebenarnya kalau berbicara tentang PKS ini, jauh lebih asyik buat digosok adalah soal siapa yang akan menjadi CAPRES mereka. Siapa asja pengurus di tingkat pusat PKS, jika ditanya soal kandidat CAPRES ini akan menjawab dengan beragam cara tetapi intinya satu yaitu menunggu hasil perolehan suara PKS dalam Pemilihan Umum Legislatif tanggal 9 April 2009 mendatang.

Bedanya adalah jika pertanyaan tentang CAPRES itu ditujukan secara langsung kepada Presiden PKS Tifatul Sembiring. Ada saja kalimat bersayap yang “cantik” digunakan sebagai jawaban. Misalnya, “Kami menunggu perolehan suara dalam Pemilu Legislatif. Tapi apa benar ya, ada nama Puan Maharani (puteri Megawati Soekarnoputri, red) yang diperbincangkan khalayak ramai untuk dimajukan sebagai kandidat CAWAPRES ?” kata Tifatul Sembiring baru-baru ini.

Tifatul Sembiring selalu berusaha untuk tidak mengecewakan siapapun juga jurnalis yang bertanya kepada dirinya. Walaupun kadang-kadang, jawaban itu lebih mengarah kepada kalimat bersayap.

Selama ini, orang lebih banyak membahas tentang figur Hidayat Nurwahid sebagai salah satu nama yang layak dijagokan sebagai CAPRES. Ya, barangkali karena HNW adalah mantan Presiden PKS dan saat ini sedang menjabat sebagai Ketua MPR-RI.

Sehingga nama beliau lebih akrab di telinga publik. Popularitas tampaknya menjadi salah satu faktor penentu untuk maju ke ajang Pilpres 2009 ini.

 Dengan menyandang predikat sebagai Pengurus atau Kader PKS saja, itu sudah cukup menjadi jaminan. Parpol yang satu ini sudah membuktikan bahwa mereka adalah parpol yang cukup terpuji.

Almuzzammil Yusuf (PKS)

Almuzzammil Yusuf (PKS)

Padahal kalau mau jujur, ada beberapa nama yang cukup kredibel untuk dipertimbangkan sebagai CAPRES, CAWAPRES dan CAMEN (bukan calon menantu tetatpi calon menteri). Sebutlah misalnya, Tifatul Sembiring, Almuzzammil Yusuf (anggota Komisi I DPR-RI), Maffud Siddiq (Ketua Fraksi PKS di DPR-RI) dan Anis Matta. PKS punya pemimpin-pemimpin muda yang kredibel.  Yang menjadi penekanan disini adalah janganlah popularitas itu menjadi faktor penentu acara pinang-meminang figur CAPRES atau CAWAPRES.   Politik juga mengenal upaya lobi yang cantik untuk mencapai “win win solution” atau jalan keluar yang terbaik. Sehingga proses merger antara partai-partai nasionalis yang nantinya ingin “berkoalisi”  (terutama jika perolehan suara PKS agak kurang untuk bisa mencalonkan CAPRES dari kalangan internal mereka secara mutlak), yang harus diingat adalah PKS tidak bisa dianggap sepele.  Bahwa PKS berbais agama yang sangat kuat sehingga menjadi kendala bagi partai-partai nasionalis untuk melakukan “merger”, jangan lupa bahwa didalam politik juga dibutuhkan proses asimilasi.

Massa dari partai yang bernomor urut 8 ini tidaklah sedikit. Mereka jarang beriklan secara jor-joran di berbagai media pertelevisian. Beda dengan parpol lain yang modalnya jauh lebih besar.

Disini yang mau dikatakan adalah iklan politik memang ada manfaatnya tetapi bagi parpol tertentu tak terlalu menentukan. Sebab ada karakter pemilih tradisional yang sudah sangat melekat hati dan pikirannya dengan si parpol itu sendiri.

pks-pks-pks1

Dalam hal ini, PKS memiliki massa yang sangat fanatik sekali. Boleh saja sebagian orang menjadi kuatir karena basis keagamaan yang sangat kuat dari PKS ini. Tetapi mayoritas dari Pengurus, Anggota DPR-RI, Pejabat atau Tokoh Publik yang berasal dari PKS ini mampu menunjukkan bahwa mereka “bersih”. Disitu letak kekuatannya. Dan disitu jugalah letak daya tariknya. Ada simpati yang lahir dari banyak kalangan.

PKS termasuk salah satu parpol yang menempatkan kadernya di dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Tapi syukurlah, partai yang satu ini tak ikut-ikutan jualan kecap tentang JASA-JASA yang telah dilakukan kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia selama kurun waktu hampir 5 tahun ini.

Sebab cara-cara memuji diri sendiri semacam itu, rasanya tidak etis dan sangat memprihatinkan. Mengapa Penempatan kepentingan bangsa dan negara diatas segala-galanya menjadi tercederai. Jadi selama ini, semua pengabdian itu untuk kepentingan partai politik atau agenda politik tertentu saja ? Itu kan sama saja melakukan pemaksaan secara tidak langsung.

“Gue sudah melakukan ini dan itu, jadi lu milih partai gue atau memilih gue dong” kira-kira seperti itu ilustrasi yang bisa dimunculkan.

Inilah yang kami maksud dengan penempatan kepentingan bangsa dan negara diatas segala-galanya menjadi tercederai.

Sehingga jalan ada pemimpin yang menyalahkan rakyat jika pada akhirnya mulai takut untuk menerima bantuan dari pemerintah. Nanti kalau bantuan itu diterima, di klaim sebagai kebaikan hati atau keberhasilan partai tertentu saja kan menjadi tidak enak rasanya di hati.

Memuji diri sendiri dalam berpolitik itu jangan dijadikan senjata pamungkas. Apalagi jika disampaikan secara mengebu-gebu. Rakyat seakan dipaksa untuk tahu, percaya atau sadar bahwa partai tertentu itu “baik hati”.

Percayalah, tanpa harus diperlakukan seperti itu pun, rakyat akan membuka lebar-lebar mata, telinga dan hati mereka. Rakyat sekarang sudah pada pintar dan sangat kritis. Mereka menilai dengan kekuatan hati.

Sehingga PKS tak perlu berkecil hati. Banyaknya isu negatif yang dihembuskan justru menjadi titik balik yang akan menguntungkan PKS. Tinggal sekarang, bagaimana keseriusan dan kegigihan para Pengurus PKS di tingkat pusat dan daerah untuk tak henti-hentinya mengingatkan semua kader dan CALEG mereka untuk jaga diri. Jaga martabat. Jaga nama baik dan kehormatan.

Syukur-syukur, perolehan suara PKS pada Pemilu Legislatif mencapai hasil yang signifikan. Sehingga PKS bisa mencalonkan pasangan CAPRES & CAWAPRES sendiri. Tak perlu berkoalisi dengan partai lain. Kalaupun harus berkoalisi, pilihlah koalisi yang  “tokcer”. Atau dalam istilah Tifatul Sembiring, “Koalisi Dasyhat”.

Jenderal Sutanto

Jenderal Sutanto

Dan namanya “pengamat”, sah- sah saja untuk mengutak-atik kemungkinan soal CAPRES-CAWAPRES tadi.

Mantan Kapolri Sutanto, lumayan oke jika disandingkan dengan nama Tifatul Sembiring. Tanpa bermaksud untuk mendikotomikan Jawa – Non Jawa, perpaduan atau persandingan nama Sutanto – Tifatul ini boleh juga untuk dijadikan wacana tersendiri.

Sutanto, salah seorang yang dijagokan oleh banyak kalangan. Keberhasilannya menjadi Tri Brata 1 selama 38 bulan, tentu akan menjadi modal tersendiri. Komisaris Utama PERTAMINA ini, memang tak punya ambisi politik yang meletup-letup. Ia pribadi yang tenang dan santun. Sama seperti PKS yang punya daya pesona politik, Sutanto juga memiliki daya pesona politik tersendiri.

 

Tifatul Sembiring

Tifatul Sembiring

Begitupun halnya dengan Tifatul Sembiring. Cerdas, kritis, berani dan punya komitmen yang tinggi untuk melakukan hal-hal kerakyatan yang nyata.

Kalau terhadap PKS ini, tak perlu banyak dikuatirkan tentang “daya pesona politik” mereka di tengah masyarakat Indonesia.

Sekarang yang penting adalah mendorong partai ini untuk lebih berani dan cepat bersuara jika tiba saatnya nanti yaitu setelah ada kepastian tentang perolehan suara mereka pada Pemilu Legislatif.

Menunggu kabar baik dari PKS mengenai siapa CAPRES – CAWAPRES mereka, rasanya mendebarkan juga. Apakah akan ada kejutan baru yang manis dari parpol yang satu ini ? Kita tunggu saja. 

Termasuk menunggu disandingkannya alternatif nama Sutanto – Tifatul dalam kancah Pilpres 2009 mendatang.

Alamak ….. kalau kata orang Medan, mantap kali itu !

 

(MS)

Filed under: Uncategorized

Maret 2009
S S R K J S M
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip

Kategori

Kategori

%d blogger menyukai ini: